(Renungan) Mintalah Hikmat Tuhan
Mintalah Hikmat Tuhan
Kalender Liturgi Rabu, 12 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Yeh. 9:1-7; 10:18-22
Mazmur Tanggapan: Mzm. 113:1-2.3-4.5-6
Bacaan Injil: Mat. 18:15-20
Menegur yang bersalah sering dihindari karena kuatir menyakiti atau merusak hubungan. Dalam dunia kerja, proses penegakan disiplin dengan menegur, memberi peringatan, hingga memberhentikan seorang pekerja yang berbuat salah ada aturannya. Atasan dapat langsung menegur anggota tim yang berbuat salah di ruang tertutup secara empat mata. Jika teguran atasan tidak efektif, maka atasan tersebut dapat mengeskalasi ke atasannya lagi. Jika tetap tidak berubah, ada mekanisme selanjutnya yang lebih terbuka, yaitu menerbitkan surat peringatan, sampai akhirnya dilakukan pemutusan hubungan kerja. Tata kelola dalam hukum positif ini ternyata tidak berbeda dari apa yang Yesus ajarkan.
Injil Matius bab 18 merupakan kumpulan peraturan Yesus mengenai bagaimana pengikutnya bergaul dan menyelesaikan masalah di antara para jemaat. Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajarkan empat langkah sebagai kondisi yang harus diambil dalam proses penegakkan disiplin. Hal ini meliputi teguran secara pribadi di bawah empat mata, teguran dengan menghadirkan saksi yang bijaksana, teguran secara publik, dan pengucilan.
Saat sebagai seorang HRD, saya pernah diminta oleh pimpinan dari seorang manager yang menurutnya melakukan kesalahan dan harus segera diselesaikan. Menurut aturan, sang pimpinan harus menyelesaikannya sendiri dan HRD hanya mendukung administrasinya. Sebelum menghadapi sang manager, saya berdoa memohon hikmat, agar bijaksana dalam berucap. Namun, sang manager yang temperamental malah berbicara keras kepada saya. Saya tetap mendengarkan dengan baik. Setelah beberapa menit dia sadar dan meminta maaf. Bahkan setelah keluar, dia rajin berkomunikasi dengan saya sampai kini.
Menegur orang lain dengan tetap menjaga martabat seseorang memerlukan hikmat Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa menyampaikan teguran harus dilandaskan dengan tindakan kasih tertinggi, bukan penghakiman.
Apakah saya selalu sadar bahwa tujuan memberikan teguran bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar, tetapi mendapatkan kembali saudara yang tersesat? Yesus juga menjanjikan akan hadir melalui kuasa doa dan kebersamaan. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, Tuhan hadir. Jadi teguran yang dilakukan dalam nama-Nya juga akan disertai kehadiran-Nya.
(Roslini Onwardi)
"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali.”
(Mat. 18:15)
Kalender Liturgi Rabu, 12 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Yeh. 9:1-7; 10:18-22
Mazmur Tanggapan: Mzm. 113:1-2.3-4.5-6
Bacaan Injil: Mat. 18:15-20
Menegur yang bersalah sering dihindari karena kuatir menyakiti atau merusak hubungan. Dalam dunia kerja, proses penegakan disiplin dengan menegur, memberi peringatan, hingga memberhentikan seorang pekerja yang berbuat salah ada aturannya. Atasan dapat langsung menegur anggota tim yang berbuat salah di ruang tertutup secara empat mata. Jika teguran atasan tidak efektif, maka atasan tersebut dapat mengeskalasi ke atasannya lagi. Jika tetap tidak berubah, ada mekanisme selanjutnya yang lebih terbuka, yaitu menerbitkan surat peringatan, sampai akhirnya dilakukan pemutusan hubungan kerja. Tata kelola dalam hukum positif ini ternyata tidak berbeda dari apa yang Yesus ajarkan.
Injil Matius bab 18 merupakan kumpulan peraturan Yesus mengenai bagaimana pengikutnya bergaul dan menyelesaikan masalah di antara para jemaat. Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajarkan empat langkah sebagai kondisi yang harus diambil dalam proses penegakkan disiplin. Hal ini meliputi teguran secara pribadi di bawah empat mata, teguran dengan menghadirkan saksi yang bijaksana, teguran secara publik, dan pengucilan.
Saat sebagai seorang HRD, saya pernah diminta oleh pimpinan dari seorang manager yang menurutnya melakukan kesalahan dan harus segera diselesaikan. Menurut aturan, sang pimpinan harus menyelesaikannya sendiri dan HRD hanya mendukung administrasinya. Sebelum menghadapi sang manager, saya berdoa memohon hikmat, agar bijaksana dalam berucap. Namun, sang manager yang temperamental malah berbicara keras kepada saya. Saya tetap mendengarkan dengan baik. Setelah beberapa menit dia sadar dan meminta maaf. Bahkan setelah keluar, dia rajin berkomunikasi dengan saya sampai kini.
Menegur orang lain dengan tetap menjaga martabat seseorang memerlukan hikmat Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa menyampaikan teguran harus dilandaskan dengan tindakan kasih tertinggi, bukan penghakiman.
Apakah saya selalu sadar bahwa tujuan memberikan teguran bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar, tetapi mendapatkan kembali saudara yang tersesat? Yesus juga menjanjikan akan hadir melalui kuasa doa dan kebersamaan. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, Tuhan hadir. Jadi teguran yang dilakukan dalam nama-Nya juga akan disertai kehadiran-Nya.
Doa:
Allah Bapa Yang Maha Rahim, puji dan syukur atas kasih dan rahmat-Mu pada kami hingga saat ini. Kami mohon bimbingan Roh Kudus-Mu dalam menjalani karya dan pelayanan kami, khususnya dalam mengatasi hal-hal suli. Kiranya kami senantiasa rendah hati dan penuh hikmat dalam berpikir dan berucap. Amin.
Allah Bapa Yang Maha Rahim, puji dan syukur atas kasih dan rahmat-Mu pada kami hingga saat ini. Kami mohon bimbingan Roh Kudus-Mu dalam menjalani karya dan pelayanan kami, khususnya dalam mengatasi hal-hal suli. Kiranya kami senantiasa rendah hati dan penuh hikmat dalam berpikir dan berucap. Amin.

Komentar
Posting Komentar