(Renungan) Siaga dengan Bersenjata yang Tidak Melukai
Siaga dengan Bersenjata yang Tidak Melukai
(F.D. Henny Dwi Widyasari)
(F.D. Henny Dwi Widyasari)
“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?
(Mat. 24:45)
Kalender Liturgi Kamis, 27 Agustus 2026
PW. S. Monika
Bacaan Pertama : 1Kor. 1:1-9
Mazmur Tanggapan: Mzm.145:2-3.4-5.6-7
Bacaan Injil: Mat. 24:42-51
Yesus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dan menjadi hamba yang setia serta bijaksana. Dalam Matius 24:42-51, Yesus mengumpamakan kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari. Kita tidak pernah tahu kapan saat kedatangan Tuhan atau akhir kehidupan kita tiba. Karena itu, iman Katolik mengajarkan, bahwa berjaga-jaga bukan sekedar menanti dengan pasif. Berjaga-jaga juga berarti setia menjalankan tugas, yaitu tugas mengasihi sesama secara nyata di dunia saat ini.
Hamba yang setia adalah mereka yang tetap melakukan kehendak tuannya dengan penuh tanggung jawab, bahkan ketika sang tuan belum datang. Dengan demikian, kesiapsiagaan iman tampak dalam kesetiaan, kasih, dan pelayanan yang kita lakukan tanpa mengenal lelah.
Kisah Santa Monika menjadi teladan dan cerminan nyata dari sikap berjaga-jaga dalam iman. Yesus mengatakan bahwa hamba yang berbahagia adalah mereka yang tetap setia bertugas saat Tuannya datang. Santa Monika menjalankan tugas kasihnya bukan dengan cara memaksa, melukai, atau menghakimi. Melainkan melalui kesabaran, air mata, dan doa yang tidak pernah putus. Santa Monika terus berjaga dengan setia sebagai ibu dan istri dengan mendoakan keluarganya, hingga keluarganya bertobat.
Doa tulus seorang ibu, dapat menjadi kekuatan besar yang tidak menyakiti siapa pun. Doa membuka jalan bagi pemulihan dan pertobatan keluarganya. Doanya menjadi 'senjata' yang tidak melukai siapa pun, tetapi justru membuka jalan bagi pemulihan.
Di dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menghadapi orang yang jauh dari Tuhan. Sering kali ada orang yang sulit berubah atau bahkan terus menyakiti hati kita. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tetap berjaga dalam kasih. Kita diundang untuk mengubah amarah menjadi doa yang tulus, keputusasaan menjadi harapan, serta berserah kepada Tuhan.
Menjadi hamba yang setia berarti tetap melakukan bagian kita dengan kasih, meskipun ketika hasilnya belum terlihat. Doa dan kasih mungkin tampak sederhana dan tidak berdaya, tetapi di tangan Tuhan keduanya dapat menjadi kekuatan yang membawa perubahan.
Adakah seseorang yang hari ini Tuhan percayakan kepada kita untuk kita doakan dengan lebih setia?
Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah kami meneladani kesetiaan Santa Monika dalam menghadapi pergumulan dengan kasih dan doa. Ubahlah amarah kami menjadi kesabaran, keputusasaan menjadi harapan, dan luka menjadi belas kasih. Jadikanlah kami hamba yang setia dan bijaksana, yang tetap berjaga dalam kasih serta percaya pada waktu dan kehendak-Mu. Amin.
Tuhan Yesus, ajarilah kami meneladani kesetiaan Santa Monika dalam menghadapi pergumulan dengan kasih dan doa. Ubahlah amarah kami menjadi kesabaran, keputusasaan menjadi harapan, dan luka menjadi belas kasih. Jadikanlah kami hamba yang setia dan bijaksana, yang tetap berjaga dalam kasih serta percaya pada waktu dan kehendak-Mu. Amin.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar