(Renungan) Turun untuk Berkarya
Turun untuk Berkarya
(Antonius Tjahiono)
(Antonius Tjahiono)
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus memberi perintah kepada mereka, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sebelum
Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
(Mat. 17:9)
Bacaan Pertama: Dan. 7:9-10, 13-14
Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2.5-6.9
Bacaan Injil: Mat. 17:1-9
Aku bukan seorang pecinta alam. Namun, suatu ketika aku diajak seorang teman mendaki Gunung Gede. Kami mulai mendaki pada malam hari dan tiba di puncak menjelang fajar. Sesampainya di atas, rasa lelah seolah terbayar lunas. Dalam keheningan, aku memandang langit yang bertabur bintang. Saat fajar menyingsing, cahaya matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, sementara awan membentang indah. Rasanya seperti berada di negeri di atas awan. Di sana aku merasakan kedamaian dan mengagumi kebesaran Tuhan. Terbayang, di puncak ada pondok yang nyaman dan semangkuk bakso hangat, tentu aku mau berlama-lama.
Aku bukan seorang pecinta alam. Namun, suatu ketika aku diajak seorang teman mendaki Gunung Gede. Kami mulai mendaki pada malam hari dan tiba di puncak menjelang fajar. Sesampainya di atas, rasa lelah seolah terbayar lunas. Dalam keheningan, aku memandang langit yang bertabur bintang. Saat fajar menyingsing, cahaya matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, sementara awan membentang indah. Rasanya seperti berada di negeri di atas awan. Di sana aku merasakan kedamaian dan mengagumi kebesaran Tuhan. Terbayang, di puncak ada pondok yang nyaman dan semangkuk bakso hangat, tentu aku mau berlama-lama.
Pada kisah Injil hari ini. Petrus, Yakobus, dan Yohanes diajak Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di tempat yang sunyi itu, Yesus berubah rupa. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau. Mereka menyaksikan Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, lalu mendengar suara Allah Bapa yang berkata, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Pengalaman itu begitu indah sehingga Petrus ingin tetap tinggal berlama-lama di sana.
Mereka harus turun gunung. Masih ada tugas yang harus dijalankan. Yesus harus melanjutkan perutusan-Nya, mewartakan Kerajaan Allah, melayani banyak orang, dan akhirnya menempuh jalan salib sesuai kehendak Bapa. Demikian pula para murid dipanggil untuk kembali ke tengah kehidupan nyata, menghadapi tantangan, bekerja, melayani, bahkan siap menanggung penderitaan.
Turun gunung berarti berani merendahkan hati dan hadir bagi sesama. Pelayanan tidak selalu berupa hal-hal besar. Justru kasih paling nyata tampak dalam tindakan-tindakan sederhana: menghargai asisten rumah tangga, menyapa petugas kebersihan, menghormati satpam, bersikap ramah kepada tetangga, mendengarkan anggota keluarga, serta membantu mereka yang membutuhkan. Dari hal-hal kecil itulah kemuliaan Kristus dapat dipancarkan.
Pengalaman berjumpa dengan Tuhan selalu mengubah hidup. Semakin dekat kita kepada-Nya, semakin besar pula kerinduan untuk melayani. Sebab puncak pengalaman iman bukanlah tinggal di atas gunung, melainkan turun ke tengah dunia untuk berkarya dengan kasih.
Doa:
Tuhan Yesus yang mulia, Engkau telah menyatakan cahaya kemuliaan-Mu kepada para murid. Terangilah hatiku agar aku setia mendengarkan sabda-Mu dan mengikuti kehendak-Mu. Berilah aku kerendahan hati untuk turun melayani sesama dengan kasih, sehingga melalui hidupku, kemuliaan-Mu semakin nyata. Amin.
Tuhan Yesus yang mulia, Engkau telah menyatakan cahaya kemuliaan-Mu kepada para murid. Terangilah hatiku agar aku setia mendengarkan sabda-Mu dan mengikuti kehendak-Mu. Berilah aku kerendahan hati untuk turun melayani sesama dengan kasih, sehingga melalui hidupku, kemuliaan-Mu semakin nyata. Amin.

Komentar
Posting Komentar