(Renungan) Aku Baik-Baik Saja. Benarkah?
Aku Baik-Baik Saja. Benarkah?
(Fransisca Angelina Wiraatmaja)
(Fransisca Angelina Wiraatmaja)
"Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."
(Mat. 9:13)
Kalender Liturgi Senin, 21 September 2026
Pesta S. Matius, Rasul dan Penulis Injil
Bacaan Pertama: Ef. 4:1-7.11-13
Mazmur Tanggapan: Mzm.19:2-3,4-5
Bacaan Injil: Mat. 9: 9-13
Saya putri sulung dari enam bersaudara. Ayah berpulang ketika saya berusia tujuh setengah tahun. Mama seorang diri berjuang membesarkan kami hingga dapat menyelesaikan pendidikan dan hidup mandiri. Ketika mama menua, mama tinggal bersama saya hingga berpulang pada usia 81 tahun. Kami merawatnya dengan sukacita, mengajaknya mengikuti Misa, dan mendampinginya menjadi Katolik. Dari luar, hubungan kami tampak sangat baik. Mayoritas pada akhir pekan kami makan bersama, berjalan-jalan, beribadah, dan menikmati kebersamaan sebagai keluarga.
Namun, setelah mama berpulang, saya baru menyadari bahwa di balik semua perhatian itu ternyata masih ada jarak di hati saya. Ada kasih yang tidak pernah terucap, pelukan yang terlalu jarang diberikan, dan percakapan yang seharusnya lebih saya dengarkan. Saya merasa telah menjadi putri yang baik. Ternyata saya keliru. Terkadang saya menangis menyesali, seharusnya dulu saya lebih sering memeluknya, lebih sabar mendengarkan cerita mama, lebih terbuka mengungkapkan perasaan sayang dan terima kasih kepadanya.
Saat merenungkan sabda Yesus hari ini: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Rasanya Yesus sedang memanggil saya secara pribadi. Sabda ini bukan untuk menghukum kesalahan saya, melainkan mengundang saya mengakui bahwa saya adalah orang berdosa yang membutuhkan belas kasih-Nya. Bukankah kita sering merasa 'aku baik-baik saja'? Merasa sudah menjadi pasangan, orang tua, anak, sahabat, atau murid Kristus yang baik. Ketika kita berhenti merasa sudah cukup baik dan berani datang kepada-Nya dengan segala kelemahan, di situlah pertobatan sungguh dimulai.
Yesus memanggil bukan karena kita sudah sempurna, melainkan karena kita membutuhkan belas kasih-Nya. Selagi masih ada waktu, marilah meneladani Yesus dengan memulihkan relasi yang retak, menyembuhkan luka, dan menghadirkan kasih melalui tindakan nyata. Sudahkah kita mendengarkan, mengucapkan terima kasih, memaafkan, atau menunjukkan kasih kepada mereka? Masih adakah relasi yang perlu kita pulihkan atau kasih yang perlu kita ungkapkan? Bersediakah kita memulainya hari ini?
Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah kami saat merasa diri sudah benar, hingga tidak melihat apa yang masih perlu kami perbaiki. Berilah kami kerendahan hati untuk mengakui kelemahan, memulihkan relasi yang terluka, dan menyatakan kasih selagi masih ada kesempatan. Semoga belas kasih-Mu mengubah hati kami agar semakin serupa dengan kehendak-Mu. Sebab belas kasih-Mu selalu lebih besar daripada penyesalan kami. Amin.
Tuhan Yesus, ampunilah kami saat merasa diri sudah benar, hingga tidak melihat apa yang masih perlu kami perbaiki. Berilah kami kerendahan hati untuk mengakui kelemahan, memulihkan relasi yang terluka, dan menyatakan kasih selagi masih ada kesempatan. Semoga belas kasih-Mu mengubah hati kami agar semakin serupa dengan kehendak-Mu. Sebab belas kasih-Mu selalu lebih besar daripada penyesalan kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar