(Renungan) Anggur dan Kantong Baru


Anggur dan Kantong Baru

(M. Maria Novita)

Tetapi anggur yang baru harus dituang dalam kantong yang baru pula.
(Luk. 5:38)

Kalender Liturgi Jumat, 4 September 2026
Bacaan Pertama: 1Kor. 4:1-5
Mazmur Tanggapan: Mzm. 37:3-6.27-28.39-40
Bacaan Injil: Luk. 5:33-39

Bacaan hari ini, Injil Lukas 5:33-39, mengingatkan kita tentang keimanan seseorang bukan terletak sebatas rutinitas dan keajegan beribadah, melainkan tentang keintiman relasi dengan Tuhan. 

Orang Farisi lebih berfokus pada keharusan berpuasa, sementara Yesus menitikberatkan kejujuran saat merasakan dan mengalami kehadiran-Nya, sehingga hidup bersukacita. Dalam keseharian, hal ini diwujudkan lewat memilih berdamai dengan sesama, terlebih kepada diri sendiri dan bersyukur. Kala berada di fase bersusah hati, sedih, cemas, takut, berdosa, di saat itulah kita dapat memilih lebih intens beribadah dan berpuasa untuk menghadirkan Yesus, Sang Mempelai. 

Kilas balik pengalaman saya sendiri, ketika saya yakin ada sesuatu yang salah. Hampir lima tahun saya rutin melakukan pengakuan dosa, namun ada satu dosa yang terus dibawa-bawa. Begitu sulit mengampuni. Gereja menyediakan Sakramen Rekonsiliasi yang luar biasa, mengapa saya tidak berubah? Mengapa saya tetap hidup dengan kantong hati yang lama, keras, dan kaku, sehingga tetap tenggelam dalam rutinitas pengakuan yang sama? 

Seharusnya saya belajar cara berdoa baru, cara hidup berkomunitas baru, termasuk cara baru mengampuni orang. Selama saya berpikir, dia yang salah, dia yang harus minta maaf duluan, hati ini tidak akan damai bahkan menderita. 

Saya terbuka mencoba cara baru, lewat berdoa 77 Bapa Kami, menghantar saya pada pemahaman baru. Dari berdoa memohon dimampukan mengampuni orang lain, menjadi kantong hati kesadaran baru yang tidak lagi menunjuk orang lain, melainkan menunjuk diri sendiri. Juga menyadari pentingnya mengampuni sesama agar Allah juga mengampuni kesalahan kita (Mat. 6:14-15).

Dalam ayat 36-37, anggur baru dimaknai dengan hidup baru di dalam Kristus. Kantong baru berarti menemukan kebiasaan dan pola pikir baru. "Tetapi anggur yang baru harus dituang dalam kantong yang baru pula" (Luk. 5:38). 

Yesus mengajarkan bahwa cara kerja-Nya yang baru tidak mungkin diterapkan dengan cara lama. Harus ada keterbukaan dan perubahan diri kita untuk menyikapinya. 

Sudahkah kita lebih mengenal Yesus dengan cara baru?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkau bersabda, supaya kami saling mengampuni. Berkat kerahiman-Mu kami akan dimampukan. Betapa besar kasih-Mu, Tuhan!  Meskipun kami masih terus berhitung-hitung dengan sesama kami. Ampunilah kami Tuhan, kalau suka berkeras hati dan tidak pandai mengenal kehadiran-Mu. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah