(Renungan) Batu Sandungan


Batu Sandungan

(Made Shinta)

“Karena itu, apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.”
(1Kor. 8:13)

Kalender Liturgi Kamis, 10 September 2026
Bacaan Pertama: 1Kor. 8:1b-7.11-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 139:1-3.13-14ab.23-24
Bacaan Injil: Luk. 6:27-38

Santo Paulus dalam 1Kor. 8:1-7 menyatakan tidak semua orang memiliki pengetahuan akan tidak ada berhala atau ilah-ilah, melainkan hanya ada satu Allah (Bapa) dan satu Tuhan (Yesus Kristus). Bagi yang memiliki pengetahuan tersebut, mereka merasa bebas dan tidak berdosa jika memakan daging yang sebelumnya telah dipersembahkan kepada berhala. 

Kota Korintus dipenuhi oleh kuil-kuil berhala. Daging yang digunakan dalam ritual penyembahan, sering kali dijual kembali di pasar atau disajikan dalam perjamuan makan bersama. Umat yang baru percaya kepada Kristus, banyak yang berlatar belakang penyembah berhala, yang masih terikat dengan masa lalu, atau imannya belum kuat. Bila mereka melihat orang yang dianggap dewasa secara rohani/memiliki pengetahuan makan daging itu, maka dapat membuat mereka jatuh kembali ke dalam dosa. Bagi mereka, makan daging itu sama saja dengan menyembah berhala. Santo Paulus lebih memilih tidak makan daging selamanya bila hal itu menjadi batu sandungan bagi saudara-saudaranya dalam Kristus.

Orang biasanya jatuh tersandung pada batu yang kecil atau kerikil, karena batu yang besar sangat mudah terlihat sehingga bisa dihindari. Kita mungkin tidak sadar akan hal-hal yang menurut kita kecil atau biasa, padahal dapat membuat orang mundur dalam iman, pelayanan, atau terjatuh dalam dosa.

Ada teman yang terlilit pinjaman ‘paylater’ karena pengaruh ‘flexing’ di media sosial. Bagi yang mampu membeli barang trendy atau mewah, tentu merasa adalah haknya untuk memamerkannya. Namun, hal ini dapat menjadi batu sandungan bagi yang FOMO (Fear of Missing Out). Selain itu dapat memicu rasa iri hati, ketidakpuasan hidup, hingga men dorong mereka berutang atau sampai korupsi.  

Ada anak OMK (Orang Muda Katolik) yang mundur dari koor lingkungan karena tidak tahan dengan kritikan-kritikan pedas saat menjadi dirigen. Ada juga teman yang hampir keluar dari Gereja Katolik, karena pusing mendengar umat-umat ‘senior’ membahas konflik internal paroki dan hal-hal negatif tentang romo-romo di paroki. 

Marilah mengendalikan hak dan kebebasan kita, serta menjalani hidup yang dapat membantu menguatkan iman orang lain.

Doa:
Allah Roh Kudus, datanglah dan penuhilah hati kami. Sucikanlah pikiran, niat, dan perasaan kami. Kami mohon kendalikanlah lidah, tangan, dan kaki kami, agar apa yang kami ucapkan dan perbuat membawa damai dan berkat bagi sesama serta kemuliaan bagi nama-Mu. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah