(Renungan) Besar karena Rendah Hati

Besar karena Rendah Hati
(Betsy Lilikwargawidjaja)

"Oleh sebab itu, siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga."
(Mat. 18:4)

Kalender Liturgi Kamis, 1 Oktober 2026
Pesta S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus
Bacaan Pertama: Yes. 66:10-14b
Mazmur Tanggapan: Mzm. 131:1.2.3
Bacaan Injil: Mat. 18:1-5

Dalam Mat. 18:1-5, para murid bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Mereka mungkin membayangkan bahwa orang terbesar adalah orang yang paling hebat, paling berkuasa, atau paling dihormati. Namun, Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Yesus mengajarkan bahwa besar di hadapan Allah tidak ditentukan oleh kedudukan atau kehebatan manusia, melainkan oleh kerendahan hati dan ketulusan hati untuk bergantung kepada-Nya.

Menjadi seperti anak kecil bukan berarti memiliki pemikiran yang kekanak-kanakan. (lih. 1Kor. 14:20) dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran (lih. Ef 4:14). Sebaliknya, seperti anak kecil yang membutuhkan dan mengharapkan makanan, merindukan 'air susu yang murni dan yang rohani' agar kita bertumbuh dalam iman. (lih. 1Ptr 2:2).

Saya teringat seorang teman di gereja. Suatu hari, dalam sebuah kegiatan bersama, ia bekerja sejak awal hingga akhir. Ia datang lebih awal, membantu menyiapkan tempat, melayani orang lain, bahkan ikut membereskan segala sesuatu setelah acara selesai. Menariknya, ketika banyak orang mulai memberikan pujian kepada mereka yang tampil di depan, ia justru memilih tetap berada di belakang. Ketika seseorang bertanya, “Mengapa kamu mau melakukan semua ini tanpa dipuji?” Ia hanya tersenyum dan berkata, “Yang penting semuanya berjalan dengan baik. Tuhan tahu saya yang melakukannya.”

Jawaban sederhana itu mengingatkan kita pada perkataan Yesus. Ternyata menjadi besar tidak selalu berarti terlihat besar. Kadang justru orang yang paling besar di mata Tuhan adalah orang yang dengan tulus mau menjadi kecil di hadapan sesamanya.

Dalam keluarga, kerendahan hati bisa berarti mau meminta maaf. Dalam pelayanan, berarti mau membantu tanpa harus dikenal dan dipuji. Dalam kehidupan sehari-hari, berarti mau mendengarkan, menghargai, dan tidak merasa diri paling benar.

Mari kita belajar dari hati seorang anak: sederhana, mau belajar, percaya, dan terbuka. Besar bukan karena kita berada di atas orang lain, tetapi karena kita mau merendahkan hati untuk mengasihi dan melayani.

Doa: 
Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang sederhana dan rendah hati. Jauhkan kami dari keinginan untuk selalu dipuji dan dianggap paling hebat. Bimbinglah kami agar mampu mengasihi, melayani, dan menghargai sesama dengan tulus. Semua ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Putra-Mu Tuhan kami Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah