(Renungan) Jangan Menoleh ke Belakang

Jangan Menoleh ke Belakang 
(Inovi Isdiyantoro)

Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
(Luk. 9:62)

Kalender Liturgi Rabu, 30 September 2026 
Peringatan Wajib Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Ayb. 9:1-12.14-16
Mazmur Tanggapan: Mzm. 88:10bc-11.12-13.14-15
Bacaan Injil: Luk. 9:57-62

Pernahkah kita ingin melangkah maju, tetapi hati masih tertinggal di belakang? Saya pernah mengalaminya. Ada masa ketika rencana tidak berjalan seperti yang saya harapkan. Ada kekecewaan, keputusan yang sulit, dan hal-hal yang membuat saya bertanya, “Tuhan, mengapa harus seperti ini?” Saya ingin maju, tetapi pikiran terus kembali ke masa lalu. Seandainya dulu saya memilih berbeda… Seandainya keadaan tidak seperti ini…

Sampai saya menyadari, semakin sering saya menoleh ke belakang, semakin sulit saya melihat jalan yang Tuhan sediakan di depan. Yesus berkata, bahwa seorang yang membajak harus melihat ke depan. Jika terus menoleh ke belakang, alurnya tidak lurus  tapi berbelok. Demikian juga iman kita. Masa lalu boleh menjadi pelajaran, tetapi jangan menjadi tempat kita tinggal, penyesalan berlarut-larut.

Hari ini Gereja Katolik merayakan Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memahami, menerjemahkan, dan menyebarkan sabda Allah. Melalui penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin yang dikenal sebagai Vulgata, ia membantu banyak orang semakin mengenal Kristus.

Bagi saya, teladan Hieronimus mengingatkan bahwa sabda Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menjadi penuntun langkah. Ketika saya bingung, saya kembali kepada Sabda. Ketika saya takut, saya berpegang pada Sabda. Ketika saya kecewa dan ingin menoleh ke belakang, sabda Tuhan mengingatkan saya untuk tetap berjalan melihat ke depan.

Sekarang, mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Apa yang masih membuat saya menoleh ke belakang? Apakah luka yang belum saya lepaskan? Kekecewaan yang masih saya simpan? Kegagalan yang terus saya sesali? Atau seseorang yang belum mampu saya ampuni?

Ketika Tuhan berkata, “Ikutlah Aku." Apakah saya sungguh menjawab “Ya, Tuhan”. Atau masih berkata, “Ya, Tuhan… nanti dulu”? Mungkin hari ini kita tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi kita memang tidak harus mengetahui semuanya. Kita hanya perlu percaya kepada Tuhan dan berani mengambil satu langkah lagi.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah kami melepaskan apa yang harus kami tinggalkan. Sembuhkan luka yang masih kami bawa dan kuatkan kami untuk tidak terus menoleh ke belakang. Seperti Santo Hieronimus, ajarilah kami mencintai Sabda-Mu dan menjadikannya terang bagi setiap langkah hidup kami. Tuhan, kami tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi kami percaya Engkau ada di sana. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah