(Renungan) Keluarga Allah

Keluarga Allah
(Gregorius Junus)

Jawab-Nya kepada mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, 
yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” 
(Luk. 8:21)

Kalender Liturgi Selasa, 22 September 2026
Bacaan Pertama: Ams. 21:1-6.10-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:1.27.30.34.35.44
Bacaan Injil: Luk. 8:19-21

Jawaban Yesus ini sungguh di luar dugaan, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk. 8:21). Sekilas terkesan Yesus seperti mengabaikan ibu dan saudara-saudara-Nya. Sesungguhnya Yesus tidaklah menolak ibu dan saudara-saudara-Nya. Yesus dalam pengajaran-Nya kepada orang banyak mau meluaskan dan menegaskan arti keluarga. Bukan keluarga secara jasmani saja, tetapi juga keluarga secara rohani yaitu keluarga dalam relasi dengan Allah. Keluarga yang dibangun di atas iman. Ikatan paling dalam bukanlah darah atau marga. Ikatan paling dalam adalah ketika kita punya Bapa yang sama di surga.

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan hal ini dari kejauhan. Seorang Bapak bergegas-gegas meninggalkan sepeda dan belanjaannya karena melihat mobil tetanggaku menggelinding turun. Sopir yang masih beberes di dalam mobil tidak menyadari bahwa mobilnya bergerak karena belum direm sempurna. Tidak jauh di depan mobil itu ada anak majikannya melintas untuk mengambil mainnya. Bapak itu akhirnya menyelamatkan anak balita itu dari bahaya tertabrak dan tergilas mobil.

Si bapak tidak mengenal anak tersebut maupun orang tuanya. Dia bukan tetangga karena tinggal di luar tembok perumahan kami. Yang dia lihat ada nyawa yang harus diselamatkan dan spontan melakukannya. Itulah gambaran ‘keluarga Allah’. Kita menjadi saudara bukan karena marga atau KTP, tetapi karena ada kebaikan Allah di dalam kita yang dinyatakan dalam tindakan nyata. Yesus menyebut dua kata kerja untuk kita: yaitu mendengarkan dan melakukan firman Allah.

Iman kita pun begitu. Bukan cukup hafal doa, hadir Misa, ikut seminar, dan aktif di lingkungan. Akan tetapi perlu sampai pada titik berani meninggalkan ‘sepeda dan belanjaan’ kita, demi mendengarkan dan melakukan kehendak Allah.  Mungkin ‘sepeda dan belanjaan’ kita adalah waktu, tenaga, harta, gengsi, atau zona nyaman.

Apakah kita sudah menjadi ‘ibu dan saudara Yesus’ hari ini? Marilah mendengarkan Dia dalam Kitab Suci dan doa, lalu kita lakukan dalam tindakan kasih nyata sehari-hari.

Doa:
Allah Bapa Yang Maha Kasih, sumber dan tujuan hidup kami. Terima kasih ya Bapa karena melalui Putra-Mu, Engkau telah menunjukkan arti keluarga sejati: keluarga Allah. Bapa, ajarilah kami menjadi anggota keluarga-Mu yang setia mendengarkan firman-Mu dan melakukannya. Semoga hidup kami menjadi bukti ketaatan dan Engkau layakkan kami disebut ibu dan saudara Yesus, Putra-Mu. Doa ini kami panjatkan kepada-Mu ya Bapa dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang terkasih. Amin.            




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah