(Renungan) Kerendahan Hati Seorang Anak


Kerendahan Hati Seorang Anak

(Cecilia Yanti)

“Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
(Luk. 9:48b)

Kalender Liturgi Senin, 28 September 2026
Bacaan Pertama: Ayb. 1:6-22 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 17:1.2-3.6-7
Bacaan Injil: Luk. 9:46-50

Dalam bacaan ini, para murid memperdebatkan siapa yang terbesar. Yesus kemudian mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di sisi-Nya. Ia berkata: “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” 

Yesus membalikkan ukuran dunia. Dunia sering mengukur kebesaran melalui jabatan, kuasa, kekayaan, dan pengaruh. Namun, bagi Yesus kebesaran tampak dalam kerendahan hati, kesediaan melayani, serta kemampuan menerima mereka yang kecil dan tidak diperhitungkan. Menyambut seorang anak dalam nama Yesus berarti menyambut Yesus sendiri, bahkan menyambut Bapa yang mengutus-Nya. 

Anak kecil menjadi gambaran hati yang sederhana: tidak mencari kehormatan, tidak sibuk membandingkan diri, dan mau menerima kebaikan dengan percaya. Kemurnian, kesederhanaan, dan kerendahan hati seorang anak adalah hal-hal baik yang patut diteladani.

Orang mau terlibat dalam pelayanan dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang sungguh ingin melayani Tuhan melalui Gereja, ada yang hanya mencari kesibukan, namun ada pula yang ingin mencari ketenaran dan nama baik. Motivasi yang berbeda-beda ini sering kali menjadi penyebab terjadinya ketidakharmonisan bahkan perpecahan dalam suatu tim pelayanan. Hal ini pun saya alami dalam pelayanan. Sering kali terjadi perselisihan karena ada anggota tim yang menganggap pendapatnya selalu benar dan harus diikuti. Teman-teman lain yang tidak sependapat tentunya menolak, sehingga terjadilah perdebatan yang kadang tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya tim menjadi kurang harmonis dan kurang dapat bekerja sama dengan baik. Sangat disayangkan tujuan utama dalam pelayanan menjadi terlupakan karena dikalahkan oleh emosi dan egoisme pribadi.  

Pelayanan bagi Tuhan memerlukan kerendahan hati dari semua anggota tim yang terlibat. Saling memahami, saling mendukung, saling percaya, dan membantu satu sama lain adalah hal-hal yang harus selalu diingat dan dihidupi dalam pelayanan keseharian. Kita harus berpegang teguh bahwa yang kita layani adalah Tuhan sendiri, yang telah lebih dulu melayani kita, agar kita tidak teralih oleh hal-hal buruk yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan.  

Mari kita tanyakan diri kita sendiri, "Apakah saya rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama?"

Doa:
Ya Tuhan Yesus, Guru kami, ajarilah kami untuk selalu rendah hati dalam melayani-Mu melalui sesama kami, agar mereka dapat melihat-Mu dalam diri kami melalui kesaksian hidup kami di tengah masyarakat. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah