(Renungan) Kesetiaan Bunda Maria


Kesetiaan Bunda Maria 
(Cecilia Hesti Prayoganingsih)

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, "Ibu, inilah anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, "Inilah ibumu!' Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
(Yoh.19:26-27)

Kalender Liturgi Selasa, 15 September 2026
PW. Santa Perawan Maria Berdukacita
Bacaan Pertama: Ibr. 5:7-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20.
Bacaan Injil: Yoh. 19:25-27  

Gereja Katolik menetapkan tanggal 15 September sebagai hari Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita. Gereja hendak mengenang duka cita Bunda Maria selama mendampingi Yesus Kristus, yang berpuncak pada peristiwa Jalan Salib. 

Kesetiaan Maria dalam mendampingi Yesus, menunjukkan kasihnya yang luar biasa pada-Nya. Tak pernah meninggalkan-Nya bahkan sampai Yesus wafat di kayu salib. Inilah bukti hubungan kasih yang sangat kuat antara Maria dan Yesus putranya. 

Menjelang kematian-Nya pun, Yesus masih memikirkan keselamatan dan masa depan ibu-Nya. Dalam budaya orang Yahudi, anak laki-laki tertua wajib merawat ibunya jika ayahnya sudah tiada. Karena itu Ia pun menitipkan Bunda Maria pada murid yang dikasihi-Nya. Begitu pun sebaliknya, Yesus menyerahkan murid-Nya kepada Bunda Maria. Dengan kata lain, murid tersebut menggantikan posisi Yesus sebagai anak yang merawat sang ibu. Sebaliknya, Bunda Maria pun diterima sebagai ibu oleh sang murid yang diwujudkan dengan menerima Bunda Maria tinggal bersamanya. 

Saya ingat saat anak saya masih SMA. Suatu hari, ia menelepon saya dari sekolah sambil menangis di dalam toilet dan bercerita semua ulangannya harus remedial, pun pelajaran Agama Katolik. Ia sangat takut tidak naik kelas. Mendengar tangisnya, saya ikut menangis walaupun saya tetap berusaha tegar tidak menunjukkan kesedihan saya dan berusaha menguatkannya. Terus setia mendampinginya dengan cara selalu ada di rumah saat ia belajar, terutama saat ia sedang menghadapi tes dan ujian. Hal ini saya lakukan agar anak saya tahu bahwa ibunya selalu ada bersamanya dalam keadaan sesulit apa pun. Dari Bunda Maria saya belajar arti kesetiaan sebagai seorang ibu, dan bagaimana seorang ibu harus dapat mengendalikan perasaannya dalam situasi sulit apa pun agar sang anak merasa tenang.

Yesus telah memberikan warisan terindah, yaitu menyerahkan ibu-Nya menjadi ibu rohani kita, murid-murid-Nya. Bunda Maria adalah Bunda Gereja. Maria sudah menunjukkan kesetiaannya tanpa batas kepada Yesus putranya. Sudah sepantasnyalah kita meneladani Maria dengan makin setia pada Yesus sampai akhir.

Doa:
Ya Bunda Maria, doakan kami anak-anakmu agar kami selalu setia pada Yesus Puteramu sampai akhir hayat hidup kami.

Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah