(Renungan) Kita Bisa Menjadi Pohon yang Baik


Kita Bisa Menjadi Pohon yang Baik

(Agung Tri Wahyunto)

“Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.”
(Luk. 6:43)

Kalender Liturgi Sabtu, 12 September 2026
Bacaan Pertama: 1Kor. 10:14-22a
Mazmur Tanggapan:  Mzm. 116:12-13.17-18
Bacaan Injil: Luk. 6:43-49

Melalui cerita perumpamaan pohon dan buahnya, Tuhan memberi kebebasan kepada kita untuk menjadi jenis pohon apa, yang akan ditunjukkan dari buahnya. Buah itu akan menunjukkan apakah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sungguh selaras dengan kehendak Tuhan.

Dalam Injil Mat. 28:19-20 dan Kis. 1:8, dikatakan bahwa kita telah dibaptis dan diajak untuk menjadi murid dan saksi-Nya. Dengan menjadi murid-Nya kita diharapkan mengikuti hidup seperti yang diajarkan oleh Kristus, melalui kesaksian kita akan karya Tuhan dalam hidup dari buah-buah pohon kita. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik selaras dengan kehendak Tuhan, demikian pula sebaliknya.

Di tahun 2024, aku bertemu dengan teman mudika wanita setelah lewat 40 tahun kami tidak berkomunikasi. Ia hidup lajang di rumah peninggalan orang tuanya. Rumah itu masih menjadi sengketa dengan saudara tunggal lelakinya yang tinggal di kota lain. Relasi persaudaraan mereka dipenuhi kekerasan verbal sampai urusan perdukunan untuk mengusir temanku dari rumah itu. Dari semua ceritanya aku pun menyimpulkan bahwa kehidupan rohani temanku ini jauh dari suasana damai sejahtera. Singkat cerita, aku mendorongnya agar ikut melayani Tuhan sebagai prodiakon. Namun, ia menolak keras, karena berusia 63 tahun dan tidak bisa bicara di depan banyak orang. Sebaliknya, aku minta ia dengan rendah hati mohon rahmat-Nya dan segera bertemu romo. Setahun kemudian dia mengabariku kalau sudah menjadi prodiakon di Gereja St. Maria Fatima Banyumanik, Semarang, tempat kami dulu menjalani masa mudika. Ia tidak bercerita tentang sengketa rumah, tetapi sukacita dalam berbagai pelayanan di gereja yg hanya berjarak satu kilometer dari rumahnya.

Mendapat kabar sukacita itu, aku pun bersyukur dan memuji Tuhan, karena temanku telah dimampukan oleh Tuhan. Tuhan menginginkan kita menjadi pohon yang baik, namun kehidupan duniawi yang penuh persaingan, ambisi, karier, dan jabatan mendorong kita menjadi pohon yang tidak baik.

Karena itu, marilah kita rendah hati memohon rahmat-Nya agar dimampukan menjadi murid dan saksi-Nya dengan menjadi pohon yang baik    .

Doa:
Bapa Yang Maha Rahim, curahkanlah selalu rahmat-Mu kepada kami, agar kami selalu rendah hati dan peka akan kehendak-Mu. Mampukanlah kami agar semakin pantas menjadi murid dan saksi-Mu, dengan menjadi pohon yang berbuah baik sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Mu, Juru Selamat dan Pengantara kami, Yesus Kristus. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah