(Renungan) Membasuh Luka Bumi
"Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia telah banyak mengasihi. Namun, orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi."
(Luk. 7:47)
Kalender Liturgi Kamis, 17 September 2026
Bacaan Pertama: 1Kor. 15:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm. 118:1-2.16ab-17.28
Bacaan Injil: Luk. 7:36-50
Bacaan Pertama: 1Kor. 15:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm. 118:1-2.16ab-17.28
Bacaan Injil: Luk. 7:36-50
Setiap sore, di sebuah gedung perkantoran megah, seorang pria selalu terlihat membawa tas kain lusuh berisi wadah-wadah kosong bekas makan siangnya. Di antara rekan-rekannya yang terbiasa dengan kepraktisan menggunakan bungkus plastik sekali pakai, ia tampak 'merepotkan' diri sendiri. Di tengah kesibukannya, ia rela menyisihkan waktu untuk mencuci dan membawa kembali sampahnya ke rumah demi tidak menambah beban di pembuangan akhir. Ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan ungkapan syukur yang sunyi, sebuah bentuk kasih yang tak terlihat, serupa dengan perempuan dengan buli-buli pualam dalam Injil hari ini.
Terlihat kontras yang tajam terjadi antara Simon si Farisi dan perempuan yang dianggap berdosa. Simon memberikan perjamuan yang formal namun dingin, tanpa memedulikan kebutuhan paling dasar tamunya: air untuk membasuh kaki. Sebaliknya, perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya sendiri. Yesus menegaskan, "Dosanya yang banyak telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih." Kasih yang meluap-luap ini muncul karena ia tahu betapa besar beban masa lalunya yang dihapuskan.
Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang. Siapakah yang lebih mengasihi? Tentu dia yang hutangnya lebih besar dihapuskan. Ketaatan perempuan itu tidak lahir dari kewajiban agama yang kaku, melainkan dari kedalaman rasa syukur. Baginya, memberikan yang terbaik untuk Kristus adalah satu-satunya respons atas ampunan yang ia terima.
Sering kali aku bersikap seperti Simon terhadap alam; merasa sudah cukup hanya dengan menjadi 'orang baik' yang tidak merusaknya, namun aku abai memberikan kasih yang tulus untuk memulihkannya. Aku telah berhutang banyak pada bumi yang menyediakan udara dan air bagiku, namun sering kali aku terlalu 'dingin' untuk memikirkan luka-luka lingkungan yang diakibatkan oleh kenyamananku.
Mari kita mulai mencintai alam sebagai respons atas syukur kita kepada Tuhan. Kita mulai dari tindakan yang mungkin terlihat 'merepotkan' atau 'tidak praktis' bagi orang lain, seperti menolak plastik sekali pakai atau memilah sampah di meja kantor, sebagai cara kita membasuh kaki Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Doa:
Ya Tuhan, ampunilah kami yang sering memilih kenyamanan diri di atas kelestarian karya tangan-Mu. Biarlah syukur kami atas pengampunan-Mu tercermin melalui kesediaan kami untuk berkorban bagi keutuhan alam, sebagai bukti bahwa kami mengasihi-Mu dengan segenap keberadaan kami. Amin.
Ya Tuhan, ampunilah kami yang sering memilih kenyamanan diri di atas kelestarian karya tangan-Mu. Biarlah syukur kami atas pengampunan-Mu tercermin melalui kesediaan kami untuk berkorban bagi keutuhan alam, sebagai bukti bahwa kami mengasihi-Mu dengan segenap keberadaan kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar