(Renungan) Mengampuni, Maukah?
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
(Mat.18:21)
Bacaan Pertama: Sir. 27:30-28:9
Mazmur Tanggapan: Mzm.103:1-2.3-4.9-10.11-12
Bacaan Injil: Mat.18:21-35
Petrus bertanya kepada Yesus apakah ia harus mengampuni saudaranya sampai tujuh kali. Yesus menjawab, "Sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Jawaban ini tidak dimaksudkan sebagai hitungan, melainkan penegasan bahwa pengampunan tidak mengenal batas.
Pada masa itu, para rabi Yahudi mengajarkan batas mengampuni kesalahan seseorang maksimal tiga kali. Petrus merasa bahwa mengampuni sampai tujuh kali adalah angka yang sangat dermawan, namun Yesus merombak total batasan manusiawi tersebut dengan konsep pengampunan tanpa batas dari Allah.
Manusia diumpamakan sebagai hamba dengan utang dosa yang tak terbayar kepada Allah. Karena Allah telah mengampuni dosa manusia terlebih dahulu dengan cuma-cuma, manusia wajib mengampuni sesama.
Seorang romo bercerita ada seorang ibu bernama Anna (bukan nama sebenarnya) yang berusia sekitar kurang lebih 45 tahun. Ia bekerja sebagai dosen pada sebuah universitas. Ia mempunyai suami yang baik dan seorang putra. Rumah tangga mereka cukup harmonis. Ketika ia berusia 9 tahun, Anna pernah menjadi korban kekerasan seksual oleh ayahnya sendiri, sehingga ia sangat membenci ayahnya, dan sulit menerima dirinya. Ia sulit untuk memaafkan dirinya sendiri dan terpuruk dalam waktu lama. Ia jatuh bangun berusaha untuk memaafkan dirinya dan mengampuni ayahnya.
Berkat doa dan bimbingan para romo dan suster, akhirnya Anna perlahan bangkit dari keterpurukannya. Dengan rahmat Allah, akhirnya ia mampu untuk mengampuni ayahnya dan menerima dirinya.
Ketika ayahnya meninggal, ia tulus mengurus seluruh proses pemakamannya sampai selesai. Saat itulah ia merasakan kedamaian yang selama ini dirindukan. Luka itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang, tetapi hatinya telah dibebaskan dari belenggu kebencian.
Mengampuni memang bukan perkara mudah, apalagi ketika luka yang dialami begitu mendalam. Pengampunan adalah sebuah keputusan yang terus diperbarui setiap hari. Kita tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan rahmat, pertolongan, dan kasih Tuhan, kita dimampukan untuk melangkah menuju pengampunan. Maukah kita membuka hati dan mulai mengampuni?
Doa:
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengampuni kami. Ajar kami tuk selalu mengingat kasih-Mu agar kami lebih mudah tuk mau mengampuni kepada sesama kami. Amin.
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengampuni kami. Ajar kami tuk selalu mengingat kasih-Mu agar kami lebih mudah tuk mau mengampuni kepada sesama kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar