(Renungan) Motivasi yang Memuliakan Allah
Motivasi yang Memuliakan Allah
(Nima Sirait)
Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuan atas hari Sabat.”
(Luk. 6:5)
Bacaan Pertama: 1Kor. 4:6b-15
Mazmur Tanggapan: Mzm.145:17-18.19-20.21
Bacaan Injil: Luk. 6:1-5
Suatu waktu Rei, anak saya, melihat sebuah kecelakaan dalam perjalanannya menuju gereja. Saat itu, ia sedang bergegas untuk bertugas sebagai putra altar.
Rei kemudian menghentikan sepeda motornya. Bersama beberapa orang di sekitar lokasi, ia membantu menangani korban hingga situasi terkendali. Akibatnya, Rei terlambat tiba di gereja dan tidak dapat menjalankan tugasnya.
Saya lalu bertanya, "Apa yang membuatmu memutuskan berhenti? Kamu sebenarnya bisa saja terus melaju dan mengabaikan insiden itu." Rei menjawab singkat, "Aku ingin melakukan yang benar."
Rei sadar keputusannya membuat dia tidak bisa bertugas. Namun, yang ada di benaknya bukan hanya menjadi putra altar yang disiplin, melainkan bagaimana melakukan perbuatan kasih. Jawaban Rei mengingatkan saya akan cara Yesus melihat hati di balik sebuah tindakan dalam Injil hari ini.
Orang Farisi menegur murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Bagi mereka, persoalannya adalah aturan telah dilanggar. Mereka tidak berusaha memahami alasan murid-murid melakukan hal itu. Yesus mengajak orang-orang Farisi melihat lebih dalam dengan menegaskan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk. 6:5)
Murid-murid memetik bulir gandum karena lapar, bukan untuk meremehkan hari Sabat. Yesus mengingatkan kisah Daud yang makan roti sajian ketika ia dan para pengikutnya membutuhkan makanan. Secara aturan, tindakan itu memang tidak diperbolehkan. Namun, motivasinya bukan untuk menentang Allah, melainkan memenuhi kebutuhan hidup.
Yesus mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak berhenti pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi berakar dari hati yang dipenuhi kasih. Aturan tetap penting, namun harus dijalankan dalam terang Kristus yang adalah tuan atas hari Sabat. Kristuslah pusat hukum dan kasih, yang menuntun kita agar setiap tindakan menjadi sarana untuk memuliakan Allah.
Renungan ini mengajak saya memeriksa motivasi diri di balik setiap tindakan. Saya bisa saja melayani dengan rajin dan menaati semua aturan, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah Yesus sungguh menjadi pusat dari pelayanan saya?
Doa:
Ya Allah, Engkau melihat hati dan motivasi di balik setiap tindakan kami. Murnikanlah hati kami agar setiap keputusan, pelayanan, pekerjaan, dan ketaatan kami lahir dari kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Ajarlah kami menjadi seperti Yesus, untuk melakukan kehendak-Mu sekalipun harus berkorban. Biarlah seluruh hidup kami menjadi ungkapan kasih yang memuliakan nama-Mu. Amin.
Ya Allah, Engkau melihat hati dan motivasi di balik setiap tindakan kami. Murnikanlah hati kami agar setiap keputusan, pelayanan, pekerjaan, dan ketaatan kami lahir dari kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Ajarlah kami menjadi seperti Yesus, untuk melakukan kehendak-Mu sekalipun harus berkorban. Biarlah seluruh hidup kami menjadi ungkapan kasih yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar