(Renungan) Rahasia di Balik Kebisingan Kota

Rahasia di Balik Kebisingan Kota
(Yoseph Deddy Kurniawan)

"Dengarlah dan perhatikanlah perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."
(Luk. 9:44)

Kalender Liturgi Sabtu, 26 September 2026
Bacaan Pertama: Pkh. 11:9-12:8
Mazmur Tanggapan: Mzm. 90:3-4.5-6.12-13.14.17
Bacaan Injil: Luk. 9:43b-45

Di dalam gerbong kereta komuter yang padat, hampir semua mata tertuju pada layar ponsel, dan tenggelam dalam riuhnya dunia digital. Di antara video hiburan yang melintas cepat di media sosial, sebuah unggahan video pendek tentang ancaman krisis iklim sempat muncul di lini masa. Namun, dengan satu jentikan jari, unggahan itu langsung dilewati, tergantikan oleh konten lain yang lebih menyenangkan. Di tengah kenyamanan hidup urban, ada kebenaran sunyi tentang bumi yang sengaja diabaikan. Keengganan untuk melihat realitas yang tidak nyaman ini mengingatkan kita kepada para murid dalam bacaan Injil hari ini.

Ketika semua orang masih heran dan kagum dengan yang dilakukan Yesus, Yesus justru berkata kepada murid-murid-Nya, "Dengarlah dan perhatikanlah perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Di tengah atmosfer kekaguman massal, Yesus justru menubuatkan penderitaan-Nya. Namun, teks mencatat dengan getir bahwa mereka tidak mengerti perkataan itu. Maknanya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Mereka takut menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus. Ada ketakutan untuk menghadapi kenyataan di balik kepalsuan rasa aman.

Para murid memilih 'menggeser layar' ingatan mereka dari salib karena mereka hanya menginginkan kejayaan instan. Sikap ini mirip dengan cara kita memperlakukan bumi. Kita menikmati kenyamanan fasilitas kota, namun kita sengaja 'menolak mengerti' bahwa dengan gaya hidup digital dan konsumtif, kita sedang menyerahkan alam ini ke tangan kehancuran. Kita takut mempertanyakan dampak dari setiap barang yang kita beli secara daring, atau sampah yang kita hasilkan, karena jawabannya akan mengusik zona nyaman kita.

Sering kali, aku pun memilih scrolling menjauhi berita lingkungan demi ketenangan semu. Namun, hari ini kita diajak untuk tidak lagi mengabaikan 'peringatan' itu. 

Mari kita buka hati terhadap jeritan bumi yang kerap lewat di layar gawai kita. Kita mulai dari tindakan nyata yang konsisten, yakni mengurangi jejak karbon digital dan membatasi konsumsi plastik harian. Jangan biarkan kebenaran tentang kelestarian alam tersembunyi di balik algoritma ego kita, karena merawat ciptaan adalah bagian dari memikul salib kita di tengah dunia urban.

Doa:
Ya Tuhan, celikkanlah mata hati kami agar tidak buta terhadap kerusakan alam yang terjadi di sekitar kami demi kenyamanan sesaat. Mampukan kami menghadapi kenyataan dengan keberanian untuk bertindak merawat bumi-Mu, sebagai wujud ketaatan yang sejati. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah