(Renungan) Roti Tak Beragi
“Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang?”
(1Kor. 5:6b)
Kalender Liturgi Senin, 7 September 2026
Bacaan Pertama: 1Kor. 5:1-8
Mazmur Tanggapan: Mzm. 5:5-6.7.12
Bacaan Injil: Luk. 6:6-11
Rasul Paulus mengajak umat beriman untuk senantiasa hidup dalam kemurnian. Ia menggunakan gambaran roti tak beragi yang dalam tradisi Paskah melambangkan kemurnian dan hidup yang berkenan kepada Allah. “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” (lih.1Kor. 5:8)
Ragi menjadi simbol dosa dan pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sedikit ragi dapat membuat seluruh adonan mengembang. Demikian pula dosa yang kecil, jika terus dibiarkan dan dianggap biasa, lama-lama dapat merusak seluruh kehidupan rohani. Kelemahan dan kelalaian dapat berubah menjadi kebiasaan buruk, dan dapat membentuk karakter. Bahkan, suara hati yang terus-menerus diabaikan akan semakin kehilangan kepekaannya. Karena itu, Rasul Paulus mengungkapkan keburukan, kejahatan, kesombongan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan kehendak Allah tidak boleh ditoleransi begitu saja.
Kita dipanggil untuk menjadi 'adonan baru', menjadi roti tak beragi, hidup sebagai manusia baru dalam Kristus. Kristus Anak Domba Paskah, telah disembelih, Ia rela mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Darah-Nya menyucikan kita dari belenggu dosa. Inilah penggenapan Paskah sejati. Melalui kurban-Nya, kita menerima pengampunan dan pembaruan hidup.
Zaman sekarang, telepon pintar dan berbagai gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui media sosial, kita begitu mudah menemukan berita buruk, gosip, fitnah, maupun komentar penuh hujatan. Ketika terus-menerus kita melihat dan membacanya, tanpa disadari hati menjadi tercemar perlahan dipenuhi prasangka dengan pikiran jahat, dan ikut serta menghujat orang lain, yang bahkan tidak kita kenal.
Karena itu, menjaga hati merupakan sebuah pilihan dan tanggung jawab iman. Kita perlu bijaksana dalam memilih apa yang kita lihat, baca, dengarkan, dan bagikan. Jangan sampai hanyut terseret arus dosa, atau 'healing' semu. Kita membutuhkan hikmat dan rahmat Ilahi agar mampu membedakan mana yang membangun dan mana yang perlahan merusak kehidupan batin.
Sebagaimana ditegaskan pemazmur, “Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan pada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.” (Mzm. 5:5).
Doa:
Bapa surgawi, Engkau tak suka akan kejahatan. Anugerahkanlah rahmat-Mu, mampukan aku taat dan setia melakukan kehendak-Mu, agar aku berbuah lebat dan hatiku bersukacita dan senantiasa memuliakan nama-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar