(Renungan) Sekolah Cinta Kasih
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yoh. 3:16)
Kalender Liturgi Senin, 14September 2026
Pesta Salib Suci
Bacaan Pertama: Bil. 21:4-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 78:1-2.34-35.36-37.38
Bacaan Injil: Yoh. 3: 13-17
Pesta Salib Suci
Bacaan Pertama: Bil. 21:4-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 78:1-2.34-35.36-37.38
Bacaan Injil: Yoh. 3: 13-17
Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, pribadi yang memiliki pengetahuan luas. Ia telah mempelajari berbagai hal dan mencoba memahami misteri keselamatan yang dinyatakan melalui salib. Demikian juga Santo Maksimilianus Kolbe, yang menempuh pendidikan filsafat, teologi, matematika, fisika, hingga astrofisika. Pada akhirnya, Santo Kolbe memahami misteri itu dan menuliskan dengan singkat kata yang penuh makna, 'salib adalah sekolah cinta kasih'.
Nikodemus merasa sulit memahami misteri salib, yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki kasih yang begitu besar seperti Allah Bapa. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16).
Kasih Allah yang sangat luas menjangkau semua orang. Karena itu Allah Bapa mengaruniakan Anak-Nya sebagai kurban penghapus dosa di kayu salib. Sebagai umat yang telah diselamatkan, kita dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus dan kepercayaan penuh didalam kasih-Nya. Dialah yang mampu dan bersedia menuntun kita menuju keselamatan kekal.
Yesus, Anak Tunggal Allah, yang telah diberikan oleh Bapa dan ditinggikan di salib, merupakan tanda kasih-Nya kepada dunia. Ia memberikan hidup baru dan terang kepada manusia. Yesus juga mengaitkan diri-Nya dengan peristiwa di padang gurun ketika Musa meninggikan ular tembaga. "Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan." (Yoh. 3:14).
Rasul Paulus memandang salib sebagai wujud pengosongan diri Kristus yang taat kepada kehendak Bapa. Salib adalah lambang keselamatan, kemenangan, dan kasih Allah yang mengantar manusia kepada hidup yang kekal.
Saya pernah menanggalkan salib dalam hidup saya, berjalan tanpa salib, dan menolak menjadi murid Kristus. Tetapi, puji Tuhan, Dia menarik saya kembali ke dalam terang kasih-Nya sehingga tidak terus hidup dalam kegelapan.
Semoga dalam Pesta Salib Suci ini, mata hati kita menerima anugerah terang Kristus, hingga dapat melihat kelemahan dan kesalahan kita. Janganlah kita menghukum diri dengan menjauh dari cahaya kasih-Nya dan hidup dalam kegelapan. Hiduplah dalam kasih Allah, dalam terang kasih Yesus Kristus.
Doa:
Allah Bapa Maha Kuasa, semoga kami selalu berjalan dengan salib-Mu, sekolah cinta kasih-Mu, dalam terang kasih-Mu hingga kami mencapai kehidupan kekal bersama-Mu. Amin.
Allah Bapa Maha Kuasa, semoga kami selalu berjalan dengan salib-Mu, sekolah cinta kasih-Mu, dalam terang kasih-Mu hingga kami mencapai kehidupan kekal bersama-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar