(Renungan) Yang Terkecil Sekalipun dalam Perkenan Tuhan akan Menjadi Berkat


Yang Terkecil Sekalipun dalam Perkenan Tuhan akan Menjadi Berkat

(Is Susetyaningtyas) 

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, 
dari antaramu akan bangkit bagi-Ku seorang yang memerintah Israel, 
yang asalnya sudah sejak dahulu, sejak zaman dahulu. 
(Mi. 5:1)

Kalender Liturgi Selasa, 8 September 2026
Bacaan Pertama: Mi. 5:1-4a
Bacaan Kedua: Rm. 8:28-30
Mazmur Tanggapan: Mzm. 13:6ab.6cd 
Bacaan Injil: Mat. 1:1-16.18-23

Yang terkecil biasanya diabaikan dan diremehkan dunia, tapi Tuhan memilihnya menjadi pembawa pengharapan besar. Lihatlah Betlehem, kota kecil, jauh lebih kecil daripada Yerusalem atau Samaria atau kota-kota besar lainnya pada zaman Yesus, tapi dari sana lahirlah Mesias. Lihatlah Maria, gadis desa yang sederhana, yang pesta kelahirannya kita rayakan hari ini, dari dia lahirlah Yesus Sang Immanuel. Dialah Bunda Allah.

Bicara tentang hal yang kecil, aku ingat akan pengalamanku sendiri. 17 Desember tahun lalu, aku join ke sebuah agency yang relatif besar. Aku datang sebagai orang baru, tanpa pengalaman, tanpa apa-apa. Minder rasanya berhadapan dengan para senior yang hebat, berpengalaman, dengan segudang prestasi. Aku 'Betlehem' di kantor itu.

Sebagaimana umumnya agency, prestasi diukur berdasarkan pencapaian target; dan karena itu Desember, pencapaian ditutup per 31 Desember. Tinggal tersisa beberapa hari. Bagaimana aku bisa mencapai target? Aku baru tahu satu produk, belum mendalami industri, masih belajar bagaimana mengelola ketidaksetujuan. Tapi ternyata Tuhan pakai 'yang kecil' ini. Dalam 2 minggu aku bisa ketemu klien yang tepat, dengan produk yang tepat, sehingga aku malah mendapatkan promosi dengan pencapaianku. Prestasi tersendiri karena jarang yang dapat mencapai target promosi itu dalam kurun waktu dua minggu. Bukan karena aku hebat. Tapi karena aku mau jalan dengan rendah hati, siap belajar, dan percaya Tuhan buka pintu. Dari 'yang kecil' itu, Tuhan titipkan berkat yang juga menjadi berkat buat orang lain.

Kelahiran Maria mengingatkan kita bahwa kita pun dipanggil. Kita diundang untuk juga menjawab,"Aku ini hamba Tuhan". Mungkin kita merasa 'kecil' di keluarga, kantor, atau komunitas. Tapi Tuhan mau hadir lewat hidup kita yang sederhana. Tuhan tidak butuh kita besar, dia butuh kita mau dipakai. 

Mau dipakai? Mari mulai dengan taat pada hal kecil dahulu. Jangan pernah berkecil hati melihat kekurangan diri. Kekuranganku, kekuranganmu, dalam perkenan Tuhan tetap bisa jadi berkat bagi yang lain. 

Doa:
Ya Allah, Engkau telah menunjukkan kepada kami, bahwa kekecilan dan kekerdilan kami tidak pernah menjadi masalah bagi-Mu, asalkan kami tetap setia dan rendah hati mengikuti jalan-Mu. Tolonglah kami, agar selalu mau menyediakan diri menjadi alat-Mu, sehingga hidup kami bermanfaat bagi perluasan Kerajaan-mu di dunia. Semoga melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kami, meski remeh dan kecil, boleh menjadi pujian bagi nama-Mu. Demi Yesus Putra-Mu, Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah