(Renungan) Api yang Memurnikan

Api yang Memurnikan
(Fidensius Gunawan)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku menginginkan api itu telah menyala!
(Luk. 12:49)

Kalender Liturgi Kamis, 22 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Ef. 3:14-21
Mazmur Tanggapan: Mzm. 33:1-2.4-5.11-12.18-19
Bacaan Injil: Luk. 12:49-53

Bacaan Injil hari ini yang diambil dari Luk. 12:49-53 sangat menarik, tapi juga sulit dipahami. Memperhatikan konteks, Lukas bab 12 menceritakan Yesus sedang mengajar ribuan orang yang berdesak-desakan di sekeliling-Nya. Dalam bab ini, Yesus banyak memberi pesan dan juga peneguhan. 

Pada perikop ini, Yesus hendak membuka mata para murid bahwa proses pemurnian bukan hal yang mudah. Api berfungsi memurnikan. Dalam upaya kita menjadi murid yang sesungguhnya, kita akan mengalami proses pemurnian melalui api membara. Dengan selalu mengandalkan Dia, maka kita akan dimampukan menjalani proses pemurnian ini dan kelak menghadap Bapa dengan jiwa yang murni. 

Yesus juga hendak mengingatkan bahwa Kerajaan Allah tidak selalu disambut dengan sukacita. Hal yang nyata dialami oleh Gereja perdana. Terjadi pertentangan antara orang Yahudi dan Kristen. Di sinagoga, orang Kristen sering diusir. 

Awal tahun 1990 saya tinggal di Karang Tengah sebagai warga Paroki Ciledug. Karena tidak memiliki gedung gereja, maka Misa harus berpindah-pindah lokasi. Walau belum ada gedungnya, namun nama gereja sudah dipilih, yakni Gereja Santa Bernadet. Ada kala, panitia membeli tanah di sebelah Sekolah Sang Timur Ciledug. Izin membangun sudah di tangan. Tapi saat baru upacara ground breaking, tiba-tiba muncul penolakan dari warga. Jalan menuju kompleks sekolah ditutup tembok. Gereja mengalah, proyek tidak dilanjut. 

Kisah upaya Paroki Ciledug mewujudkan gedung gereja terus berlanjut dengan mencari lokasi-lokasi berbeda, namun tetap mengalami penolakan. Setelah berjuang puluhan tahun, maka beberapa tahun lalu akhirnya Gereja Santa Bernadet berdiri megah di kawasan perumahan Graha Raya. Nama paroki terpaksa diubah, karena lokasi sudah jauh dari Ciledug. Kini kita kenal sebagai Paroki Pinang.

Dalam kehidupan ini, kita sering menghadapi api pemurnian. Kita perlu bersabar dan tidak menyerah. Tuhan menjanjikan keselamatan, bila kita mengandalkan Dia. Api demi api, boleh dijumpai. Bersama Tuhan, satu per satu api berlalu dan padam. Akhirnya, kita dengan bangga memuliakan nama Tuhan, karena kita mengimani semua berkat penyertaan-Nya.

Doa:
Tuhan Yesus, berkenanlah senantiasa menyertai kami dalam setiap langkah kami. Yesus, Engkau andalanku. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Pelita yang Tetap Menyala