(Renungan) Berani dan Percaya


Berani dan Percaya

(Theresia M. M. Inaesih)

Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Namun, orang yang menyangkal Aku di depan manusia, akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.
(Luk. 12:8-9)

Kalender Liturgi Sabtu, 17 Oktober 2026
PW. Santo Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir
Bacaan Pertama: Ef. 1:15-23
Mazmur Tanggapan: Mzm. 8:2-3a.4-5.6-7
Bacaan Injil: Luk. 12:8-12

Membaca kisah orang orang kudus, khususnya Santo Ignasius dari Antiokhia, yang kita peringati hari ini sebagai peringatan wajib, membuat saya merenung lebih dalam. Kecintaannya kepada Kristus menjadikan ia begitu berani mempertahankan iman. Ia menolak untuk menyangkal Yesus, sehingga akhirnya dijadikan mangsa singa-singa buas. Kesetiaan akan imannya tercermin dalam kata-kata: “Aku adalah gandum Allah, dan aku digiling oleh gigi binatang buas agar menjadi roti yang murni bagi Kristus.” Ungkapan ini memiliki makna yang sangat mendalam.

Saya merasa malu ketika mengingat masa setelah dibaptis dewasa. Saat itu saya tinggal di tempat di mana agama Katolik merupakan minoritas. Ada rasa takut, waswas dan ragu untuk berdoa di depan umum dengan membuat tanda salib. Hal yang tempaknya sepele ini justru sangat mengusik hati saya. Saya sedih karena menyadari bahwa sebagai pengikut Kristus seharusnya saya berani mengakui-Nya di mana pun saya berada. Ketika saya menyambut panggilan-Nya untuk menjadi anak-Nya, janji penyertaan-Nya akan selalu menyertai saya. 

Seiring berjalannya waktu, penyertaan Roh Kudus membimbing saya berproses, sehingga saya tidak ragu dan takut lagi untuk membuat tanda salib, sebagai pengakuan iman akan Allah Tritunggal. Saya bangga menjadi anak-Nya. 

Dalam Injil Lukas hari ini, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk setia dalam iman dan berani mengakui Dia dalam berbagai situasi, walau sangat sulit sekalipun. Yesus meneguhkan mereka agar tidak khawatir, melainkan tetap percaya akan penyertaan Roh Kudus. Dengan demikian mereka dimampukan dalam menghadapi pemerintah maupun para penguasa. 
Kasih Tuhan melalui Roh Kudus memberi saya kesadaran untuk berani mengakui iman kepada Kristus, dan percaya pada penyertaan-Nya. Walaupun saya masih sering jatuh bangun, namun penyertaan-Nya terus membimbing saya, bukan hanya dalam membuat tanda salib, melainkan juga dalam kata dan perbuatan. 

Mari kita sama-sama berproses, belajar membuka hati, agar kehadiran Roh Kudus  memampukan kita berani mengakui iman, melalui ucapan dan perilaku, serta selalu percaya akan penyertaan-Nya.

Doa: 
Bapa di surga, penuhi kami dengan rahmat-Mu, agar kami rendah hati mengakui kelemahan kami - rasa takut dan khawatir yang menghalangi kami bersaksi tentang Engkau. Ampuni kami, Bapa. Ya Roh Kudus, hapuslah rasa takut kami, sehingga dengan berani kami mengakui iman, bersaksi dan percaya pada penyertaan-Mu. Doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah