(Renungan) Berdoa dalam Keheningan dan Khusyuk
Berdoa dalam Keheningan dan Khusyuk
(Vin D.G.)
(Vin D.G.)
Dan ampunilah dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.
(Luk. 11:4)
Bacaan Pertama: Gal. 2:1-2, 7-14
Mazmur Tanggapan: Mzm.117:1-2
Bacaan Kedua: Luk.11:1-4
Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya sebagaimana ditulis dalam Injil Lukas 11:1-4 dan Matius 6:9-13. Doa ini menjadi doa yang sangat akrab bagi setiap orang kristiani. Sejak kecil, kita telah diajarkan untuk mendoakannya, bahkan menjadi salah satu doa pertama yang diperkenalkan dalam keluarga.
Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan kita untuk menyerahkan hidup ke dalam kehendak Allah: “Jadilah kehendak-Mu.” Kita juga diajak untuk percaya pada penyelenggaraan-Nya setiap hari: “Berilah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya.” Doa itu membawa kita pada sebuah tantangan: “Ampunilah dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami.” Di sinilah doa menyentuh hati kita. Kita bukan hanya memohon agar diampuni, tetapi juga diajak untuk belajar melepaskan luka dan mengampuni sesama.
Ada bermacam-macam cara dan sikap ketika seseorang berdoa Bapa Kami. Ada yang mengucapkannya dengan cepat, tetapi ada pula yang mendoakannya dengan perlahan, dan penuh perhatian sambil merenungkan setiap kata.
Ketika kita sungguh-sungguh masuk dalam keheningan dan merenungkan setiap bagian Doa Bapa Kami, ada kalimat tertentu yang mungkin terasa sebagai sebuah tantangan, yaitu: “…sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami.” Di dalamnya terdapat sebuah komitmen iman: ketika kita memohon pengampunan dari Allah, kita pun dipanggil untuk belajar mengampuni sesama.
Malam hari, dalam sebuah rekoleksi, kami diajak masuk dalam keheningan dan suasana khusyuk. Kami diminta mendoakan Doa Bapa Kami secara perlahan sambil merenungkannya. Ketika sampai pada kalimat “…sebab kami pun mengampuni…”, sontak saya terhenti, terdiam dan merasa terharu. Seakan mengajak berintrospeksi: apakah saya sungguh-sungguh sudah mampu mengampuni orang?
Rasanya berat hanya untuk mengampuni satu orang yang pernah melukai hati saya melalui kata-katanya. Dalam keheningan itu, saya tidak mampu melanjutkan doa. Saya hanya bisa memohon pertolongan Roh Kudus, khususnya roh penguasaan diri, agar saya diberi kekuatan untuk melepaskan luka dan belajar mengampuni. Setelah tenang, Doa Bapa Kami pun dapat dilanjutkan.
Doa:
Bapa surgawi, kuduskanlah hati kami agar mampu menghayati dan mendoakan Doa Bapa Kami dengan sungguh-sungguh sesuai kehendak-Mu. Penuhilah hati kami dengan kasih-Mu, agar kami mampu mengampuni mereka yang bersalah kepada kami. Semoga doa kami menjadi ungkapan iman dan kasih kepada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.
Komentar
Posting Komentar