(Renungan) Homoia: Mengasihi Allah dan Sesama
Jawab Yesus kepadanya, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
(Mat. 22:37,39)
Kalender Liturgi Minggu, 25 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Kel. 22: 21-27
Mazmur Tanggapan: Mzm. 18:2-3a.3bc-4.47.41ab
Bacaan Kedua: 1Tes 1:5c-10
Bacaan Injil: Mat. 22:34-40
Ketika orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perintah yang terutama dalam hukum Taurat, Yesus menjawab dengan menggabungkan dua perintah. Pertama, kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan (lih.Ul. 6:5). Kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (lih. Im. 19:18). Yesus menyebut perintah kedua “yang serupa dengan yang pertama” dengan homoia, yang berarti serupa. Keduanya bukan perintah yang saling menggantikan, melainkan tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi sebagai inti hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Kasih kepada Allah harus menjadi nyata dalam kasih kepada sesama, sedangkan kasih kepada sesama harus dijiwai oleh kasih kepada Allah. Sebab, bagaimana mungkin kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan jika kita membenci sesama yang kelihatan? (1Yoh. 4:20).
Ukuran kasih itu adalah kasih agape: kasih yang mendorong kita mengusahakan kebaikan orang lain dengan tulus, tanpa pamrih, bahkan dengan pengorbanan. Sesama yang dimaksud Yesus bukan hanya orang yang dekat, seagama, atau sebangsa; melainkan setiap orang, termasuk mereka yang berbeda dengan kita, bahkan yang mungkin membenci kita. Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Inilah yang ditegaskan Yesus: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (lih. Mat. 7:12).
Teladan kasih seperti ini tampak dalam kehidupan Santa Teresa dari Kalkuta. Ia mengalami “panggilan di dalam panggilan”. Setelah menjalani panggilannya sebagai suster dan guru, ia terdorong untuk melayani kaum miskin yang hidup di jalanan. Bersama para suster Misionaris Cinta Kasih, ia merawat anak yatim, orang sakit, penderita kusta, serta mereka yang terlantar dan terabaikan. Pelayanan itu lahir dari keyakinan untuk melihat wajah Kristus dalam diri setiap orang yang menderita (ay.40).
Sabda Yesus mengajak kita tidak hanya tentang kasih, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Kasih kepada Allah menjadi nyata ketika kita berani mengulurkan tangan kepada sesama. Siapakah orang di sekitar kita yang hari ini membutuhkan kasih yang nyata dari kita?
Doa:
Bapa Yang Maha Rahim, bukalah hati kami agar peka terhadap sesama yang menderita dan terpinggirkan. Tumbuhkan niat untuk mengulurkan tangan dengan tulus, sehingga kami mampu menghargai dan mengangkat harkat serta martabat setiap manusia. Amin.
Bapa Yang Maha Rahim, bukalah hati kami agar peka terhadap sesama yang menderita dan terpinggirkan. Tumbuhkan niat untuk mengulurkan tangan dengan tulus, sehingga kami mampu menghargai dan mengangkat harkat serta martabat setiap manusia. Amin.

Komentar
Posting Komentar