(Renungan) Kaya di Hadapan Allah

K
aya di Hadapan Allah
(Johanes Williatmo Tantra)

Tetapi, Allah berfirman kepadanya: Hai Engkau orang bodoh, 
pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, 
untuk siapakah itu nanti?
(Luk. 12:20)

Kalender Liturgi Senin, 19 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Ef. 2:1-10
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2.3.4.5
Bacaan Injil: Luk. 12:13-21

Ada kisah nyata menarik dari seorang tokoh bernama Chuck Feeney. Chuck adalah miliarder asal Amerika Serikat dan pendiri kelompok usaha toko bebas bea yang beroperasi secara global, Duty Free Shoppers (DFS). Chuck Feeney adalah seorang keturunan Irlandia dan Katolik yang taat. Ia memegang prinsip luar biasa, tidak menimbun kekayaan di dunia. Ia mendirikan yayasan Atlantic Philanthropies dan selama hidupnya ia telah mendonasikan hartanya hingga USD 8 miliar (sekitar Rp. 125 triliun). Dia membantu banyak bidang kehidupan, seperti pendidikan dan kesehatan publik. Tidak hanya di Amerika, namun juga di banyak negara di berbagai belahan dunia. Semua dilakukan secara diam-diam, sehingga tidak banyak orang tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia sendiri memilih hidup sederhana, dengan tinggal di apartemen sewaan dan hanya mengenakan jam tangan murah seharga USD 10.

Kisah nyata Chuck Feeney selaras dengan makna Injil Luk. 12:13-21 yang menyatakan bahwa hidup itu jangan bergantung pada kekayaan secara jasmani (ayat 15). Melainkan kita diingatkan penting untuk menjadi kaya di hadapan Tuhan. Hidup tidak semata-mata bergantung pada kekayaan yang memberi kenyamanan. Yesus mengingatkan bahwa nilai hidup manusia lebih besar daripada sekedar harta yang dimiliki. Jauh lebih bernilai bila manusia memiliki kesehatan yang baik, damai sejahtera, dan hubungan dekat dengan Allah. Allah telah memberikan anugerah terbesar, yaitu keselamatan dan hidup  kekal secara cuma-cuma. Inilah yang mengingatkan kita untuk tidak serakah dan tidak memiliki keterikatan yang mutlak dengan kekayaan dunia. Tuhan tidak menentang seseorang menjadi kaya karena kerja keras dan upaya-upaya yang jujur. Penekanan yang disampaikan adalah kekayaan tanpa perspektif kekekalan adalah kebodohan rohani. 

Menjadi refleksi bagi saya pribadi, apakah saya mau berbagi dengan sesama dengan menyadari kebaikan yang Tuhan berikan secara gratis dalam bentuk keselamatan kekal?

Doa:
Tuhan Yesus, berikanlah kami rahmat dan pengertian, bahwa apa pun yang kami punyai semuanya berasal dari-Mu. Berilah kami hati yang dekat dengan-Mu dan tidak melekat pada kekayaan dunia yang sifatnya sementara. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Pelita yang Tetap Menyala