(Renungan) Kerinduan


Kerinduan

(Carla Claresta)

“Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang  yang diutus kepadanya! Berkali-kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anak-nya dibawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.“
(Luk. 13:34)

Kalender Liturgi Kamis, 29 Oktober 2026
Bacaan Pertama:  Ef. 6:10-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 144:1.2.9-10
Bacaan Injil: Luk. 13:31-35

Beberapa orang Farisi datang dan berkata kepada Yesus supaya Ia pergi meninggalkan Yerusalem, karena Herodes hendak membunuh-Nya. Benarkah mereka melakukan itu karena peduli akan keselamatan Yesus? Melihat respons Yesus dengan berkata, “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai,” menunjukkan tindakan mereka dapat ditafsirkan sebagai sikap permusuhan daripada pertolongan. 

Sebagai Anak Allah, Yesus wajib melaksanakan kehendak Allah. Allah tidak mengizinkan orang-orang, termasuk pemerintahan menghalang-halangi rencana-Nya. Yesus datang ke Yerusalem untuk mengingatkan permusuhan yang tragis dari Yerusalem melawan para utusan Allah. Ia meratapi kota, menganggap diri-Nya sebagai yang terakhir dalam deretan para nabi yang menghadapi kematian di situ. “Berkali-kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Hal ini menunjukkan betapa sedihnya hati Yesus, perbuatan dan harapan-Nya ditolak oleh orang-orang yang dikasihi-Nya. Sebuah kerinduan yang dipenuhi kesedihan.

Beberapa minggu lalu saya bertemu teman. Ia bercerita saat ini sedang bersedih, rindu akan kedua anaknya yang telah dewasa untuk berdamai. Hampir 1 tahun lalu mereka bertengkar hebat. Suatu malam, teman saya ngobrol santai dengan anaknya yang sulung, ia menanyakan bagaimana perasaannya terhadap si adik. Jawaban si sulung membuatnya terhentak, bahwa ia tidak akan memaafkan adiknya dan tidak akan pernah berbicara.

Dalam suatu relasi pertemanan, keluarga atau pasangan, penolakan bisa membuat hati hancur dan tersakiti. Pertanyaan-pertanyaan acap muncul mengenai apa yang telah dilakukan, hingga menyalahkan diri sendiri. Yesus pun mengalami penolakan saat datang membawa kasih ke kota yang dicintai-Nya, Yerusalem. Pesan penolakan ini bukanlah akhir dari kisah kasih, melainkan sebuah ruang untuk menguji dan memurnikan kasih tersebut. Yesus ingin kita terus mengasihi tanpa pamrih, menjaga hati agar tidak hancur. 

Bila saat ini kita sedang berjuang untuk relasi yang sulit, biarkan Tuhan menyembuhkan dan menguatkan. Di bawah sayap kasih-Nya, hati yang retak dipulihkan dan kita kembali belajar mencintai.

Doa:
Allah Roh Kudus, terima kasih Engkau telah mengasihi kami. Ajar kami untuk tetap mencintai sesama dengan tulus meski ditolak, dan membiarkan Engkau memulihkan hati kami yang hancur. Dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Pelita yang Tetap Menyala

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat