(Renungan) Kesatuan antara Maria dan Marta
Kesatuan antara Maria dan Marta
(Cicilia Refi)
(Cicilia Refi)
Sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
(Luk.10:40)
Kalender Liturgi Selasa, 6 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Gal. 1:13-24
Mazmur Tanggapan: Mzm. 139:1-3.13-14ab.14c-15
Bacaan Injil: Luk. 10:38-42
Banyak orang melihat kisah Maria dan Marta sebagai perbandingan antara kehidupan Kristen aktif yang disimbolkan oleh Marta, dan kehidupan kontemplatif yang digambarkan oleh Maria.
Dalam pelayanan, kasih Allah adalah sumber dan tujuan dari seluruh usaha manusia. Ini yang diingat oleh Maria, tetapi tampaknya dilupakan oleh Marta. Marta yang terlalu sibuk menyiapkan banyak hal sampai ia merasa lelah dan kesal sendiri. Kesibukan membuat Marta mengeluh bahkan memprotes Tuhan Yesus. Dia kehilangan fokus utamanya: melayani Tuhan.
Teguran halus yang disampaikan Yesus kepada Marta adalah sebuah pengingat, bahwa pekerjaan tidaklah berarti bila tidak disertai hubungan yang hangat dengan Tuhan.
Bagian terbaik yang diperankan oleh Maria adalah duduk tenang, mendengarkan suara Tuhan sebelum melakukan pekerjaan. Yesus memuji pilihan Maria ini, karena hubungan yang akrab dengan Tuhan tidak akan pernah bisa direbut oleh apa pun.
Hidup kontemplasi harus disertai dengan karya bagi Tuhan, karena alasan inilah Marta membutuhkan Maria, sama seperti Maria membutuhkan Marta.
Peran Marta sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang pernah saya lihat dalam keluarga salah satu kerabat (sebut saja Ani). Ani tinggal bersama adiknya dalam satu rumah, dia suka membantu adiknya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tetapi sesudahnya, kerap kali dia mengeluh dan menggerutu, bahkan menyalahkan orang lain. Niatnya baik, mau membantu. Akan tetapi, karena tidak menghadirkan Tuhan dalam karyanya, hal ini menjadi batu sandungan untuk adiknya. Apa yang telah dilakukannya tidak mendatangkan sukacita untuk adiknya dan untuk dirinya sendiri, semua menjadi sia-sia alias tidak menjadi berkah.
Kita dipanggil untuk memiliki hati yang tenang seperti Maria saat bersama Tuhan, namun tetap memiliki semangat melayani sesama seperti Marta. Segala bentuk pelayanan yang kita kerjakan harus keluar dari kedekatan kita dengan Tuhan, bukan dari rasa terpaksa.
Sudahkah kita menghadirkan Tuhan dalam karya hidup kita?
Doa:
Bapa Yang Maha Pengasih dan Penyayang, terima kasih, kami boleh belajar dari tokoh Maria dan Marta yang menginspirasi kami dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semua karya kami boleh menjadi sukacita dan berkah bagi sesama. Amin.
Bapa Yang Maha Pengasih dan Penyayang, terima kasih, kami boleh belajar dari tokoh Maria dan Marta yang menginspirasi kami dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semua karya kami boleh menjadi sukacita dan berkah bagi sesama. Amin.

Komentar
Posting Komentar