(Renungan) Kita Dipanggil, Dipilih dan Diutus


Kita Dipanggil, Dipilih dan Diutus

(Hendri Chandra)

Ketika pagi tiba, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul.
(Luk. 6:13)

Kalender Liturgi Rabu, 28 Oktober 2026
Pesta S. Simon dan S. Yudas, Rasul
Bacaan Pertama: Ef. 2:19-22
Mazmur Tanggapan: Mzm. 19:2-3,4-5
Bacaan Injil: Luk. 6:12-19

Seorang pria paruh baya melangkah ke ruang rapat dengan penuh keyakinan. Ia memiliki pengalaman kerja lebih dari sepuluh tahun. Namun ketika keluar dari ruang itu, wajahnya tampak bingung dan kehilangan kepercayaan diri. Pengalaman yang selama ini menjadi andalannya terasa tidak lagi cukup ketika berhadapan dengan rekan-rekan kerja yang lebih muda, dan mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat serta akurat.

Kisah ini diambil dari sebuah iklan kursus kecerdasan buatan yang beredar di media sosial. Pesannya jelas: pengalaman saja tidak memadai. Seseorang perlu terus belajar dan memanfaatkan teknologi agar dapat menjawab tantangan zaman.

Namun, Injil hari ini mengajak kita melihat pelajaran yang lebih mendalam. Lukas menceritakan bahwa sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus berdoa semalam-malaman kepada Allah. Ketika pagi tiba, Ia memanggil dan memilih dua belas orang yang kemudian disebut rasul. Mereka akan tinggal bersama Yesus, belajar dari-Nya, dan diutus mewartakan Injil. Menariknya, mereka bukan orang-orang sempurna. Namun, mereka dipilih bukan karena kemampuan, melainkan karena kehendak dan rencana Allah.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Melalui baptisan, kita telah dipilih dan dipanggil oleh Kristus serta mengambil bagian dalam tugas-Nya sebagai imam, nabi dan raja. Panggilan itu tidak diberikan setelah kita menjadi sempurna. Justru dalam segala keterbatasan, Tuhan tetap memanggil dan memercayakan perutusan-Nya kepada kita. 

Karena itu, meskipun dunia menuntut kita terus meningkatkan kemampuan dan  memanfaatkan teknologi baru, sebagai murid Kristus kita diingatkan akan kebutuhan yang lebih mendasar: mendengarkan suara Tuhan. 

Seperti Yesus yang berdoa sebelum mengambil keputusan penting, kita pun diajak membangun kedekatan dengan Tuhan, setia, dan mengandalkan-Nya.

Kemampuan, pengalaman, dan teknologi memang membantu kita menjalankan tugas lebih baik. Namun yang lebih utama adalah kesediaan untuk mengikuti kehendak Tuhan. Dengan tinggal dekat kepada-Nya, kita akan dimampukan untuk berkata “Ya,” kapan pun dan kemana pun Tuhan mengutus kita.

Pesta Santo Simon dan Santo Yudas yang kita rayakan hari ini mengingatkan kita akan kesetiaan para rasul. Mereka menanggapi panggilan Kristus dengan sepenuh hati, mewartakan Injil hingga ke negeri-negeri jauh, bahkan menyerahkan hidup sebagai martir di Persia.

Semoga teladan mereka mendorong kita untuk semakin setia dan berani mengandalkan Tuhan dalam perutusan kita.

Doa:
Allah Bapa, terima kasih telah memilih kami untuk menjawab panggilan-Mu. Kuatkanlah dan teguhkanlah kami untuk selalu bersukacita dan tidak lelah menjalankan perutusan ini. Keluhuran dan kesetiaan Santo Simon dan Santo Yudas menjadi teladan bagi kami untuk senantiasa memuliakan nama-Mu sepanjang hidup kami. Santo Simon dan Santo Yudas, doakanlah kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Pelita yang Tetap Menyala