(Renungan) Kopiku Bahagiaku

Kopiku Bahagiaku
(Desi Ursula)

Ia pun berkata, “Yang lebih berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah
dan yang memeliharanya.”
(Luk. 11:28)

Kalender Liturgi Sabtu, 10 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Gal. 3:22-29
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:2-3.4-5.6-7
Bacaan Injil: Luk. 11:27-28

Katanya kebahagiaan itu seperti kopi. Setiap orang punya racikannya sendiri. Ada yang menikmati kopi hitam dan pahit, ada yang menambahkan gula, dan ada yang menambahkan susu. Tidak ada yang benar dan salah, semua hanya tentang selera, kebiasaan, dan cara menikmatinya. Kebahagiaan bukan terletak pada bagaimana kopi itu disajikan, tetapi bagaimana kita menerima dan mensyukuri setiap tegukan kopi. Ini yang mereka sebut sebagai kebahagiaan. Kebahagiaan versi kopi ternyata berbeda dengan kebahagiaan menurut Injil hari ini.  

Yesus sudah dikenal banyak orang. Mereka mengenal Yesus sebagai sosok yang luar biasa, penuh wibawa, pandai mengajar, membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Tetapi tidak semua orang menanggapi secara positif. Pada perikop sebelumnya, justru Yesus mendapat tanggapan sangat negatif dari masyarakat. Mereka menganggap Yesus dapat mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Mereka tidak menghargai karya-karya Yesus dan menolak ajaran-ajaran-Nya. 

Ketika Yesus sedang berbicara dengan orang banyak tentang roh jahat (Luk. 11:24-26), tiba-tiba berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Luk. 11:27). Perempuan ini tidak takut menyampaikan tanggapan positif  di tengah orang-orang yang menolak Yesus. Kekaguman ini ditujukan  pada Yesus dan Maria, ibu Yesus. 

Seruan perempuan itu ditanggapi oleh Yesus. Ia pun berkata, “Yang lebih berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk. 11:28). Yesus menunjukkan cara meraih hidup bahagia yaitu dengan mendengarkan firman Allah dan memeliharanya. Tetapi bukankah Maria ibu Yesus adalah pribadi yang berbahagia? Ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Putra-Nya. Ia mendengarkan firman Allah, melakukannya, merawatnya seturut kehendak Allah dan ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. 

Semoga kita pun dapat meniru teladan Bunda Maria, dengan taat mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita pantas disebut sebagai orang yang berbahagia, baik di hadapan Tuhan maupun sesama.

Doa:
Bapa sumber kebahagiaan, kami bersyukur untuk firman-Mu hari ini agar kami bisa menjadi pribadi yang berbahagia. Bantulah kami berbagi kebahagiaan dan sukacita ini kepada sesama dalam tindakan dan perbuatan kami. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah