(Renungan) Menemukan Kristus di Titik Terendah Hidup
Menemukan Kristus di Titik Terendah Hidup
(Irene J. Meiske Widi)
(Irene J. Meiske Widi)
“Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
(Flp. 4:13)
Kalender Liturgi Minggu, 11 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Yes. 25:6-10
Mazmur Tanggapan: Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6
Bacaan Kedua: Flp. 4:12-14.19-20
Bacaan Injil: Mat. 22:1-14
Hari ini Santo Paulus mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang saat ini tidak selalu baik-baik saja, kita memiliki Allah yang penuh kuasa, yang menjamin kehidupan kita dan tidak pernah meninggalkan kita jatuh sendirian. Melalui suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:13).
Surat ini tidak ditulis Paulus dari podium kemenangan, melainkan dari penjara Romawi yang dingin. Saat itu, kondisi hidupnya sangat terbatas, penuh penderitaan, bahkan terancam hukuman mati. Namun, Paulus berkata bahwa baik kekurangan maupun kelimpahan tidak lagi menjadi rahasia baginya. Ia percaya, Allah akan memenuhi segala keperluannya menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Dalam buku yang berjudul Man’s Search for Meaning, Psikiater Viktor E. Frankl mengungkap pengalamannya selama di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. Frankl mengamati bahwa para tawanan yang berhasil bertahan hidup melewati siksaan kejam dan kelaparan hebat bukanlah yang punya fisik kuat, melainkan yang menyimpan harapan dan alasan untuk terus hidup.
Frankl berkata, segala sesuatu bisa dirampas dari manusia kecuali satu hal, yaitu kebebasan untuk memilih sikap dalam menghadapi suatu keadaan. Ia juga mengutip filsuf terkenal Friedrich Nietzsche, “Ia yang memiliki alasan ‘mengapa’ untuk hidup, akan mampu menanggung hampir semua ‘bagaimana’” dalam hidupnya.
Frankl memilih berpegang pada harapannya, bahwa suatu hari ia dapat bertemu kembali dengan istrinya lagi. Paulus memilih berpegang pada Kristus. Ia tidak mengizinkan segala penderitaan menghancurkan dirinya, namun dengan penuh iman menyatakan bahwa kekuatannya hanya berasal Yesus.
Saat ini, kita mungkin tidak berada dalam penjara berjeruji besi di kota Roma ataupun kamp konsentrasi di Auschwitz. 'Penjara' kita mungkin berupa problem finansial, vonis dokter, depresi, atau relasi keluarga yang retak. Alih-alih mengerahkan kekuatan sendiri, Paulus memberi teladan untuk datang kepada Kristus dan menyerahkan segala keterbatasan kita kepada-Nya. Ketika Kristus menjadi pusat hidup, bahkan titik terendah pun dapat menjadi tempat bagi kita untuk mengalami kekuatan dan penyertaan-Nya.
Doa:
Allah Bapa Yang Maha Baik, kami bersyukur atas penyertaan-Mu dalam hidup kami. Di tengah keterbatasan yang kami alami, ajarilah kami untuk mau meletakkan segala persoalan di kaki salib Putra-Mu, Yesus. Ketika kami lelah dan rapuh, berikanlah kekuatan baru. Biarlah Roh Kudus-Mu yang membimbing kami dalam setiap langkah perjalanan hidup ini. Dimuliakanlah nama-Mu, Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin.
Doa:
Allah Bapa Yang Maha Baik, kami bersyukur atas penyertaan-Mu dalam hidup kami. Di tengah keterbatasan yang kami alami, ajarilah kami untuk mau meletakkan segala persoalan di kaki salib Putra-Mu, Yesus. Ketika kami lelah dan rapuh, berikanlah kekuatan baru. Biarlah Roh Kudus-Mu yang membimbing kami dalam setiap langkah perjalanan hidup ini. Dimuliakanlah nama-Mu, Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin.
Komentar
Posting Komentar