(Renungan) Mintalah, Carilah, dan Ketuklah

Mintalah, Carilah dan Ketuklah
(Anita Elka Windyasari)

“Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."
(Luk. 11:9)

Kalender Liturgi Kamis, 8 Oktober 2026
Bacaan Pertama:  Gal. 3:1-5
Mazmur Tanggapan:  Luk. 1:69-70.71-72.73-75
Bacaan Injil:  Luk. 11:5-13

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita tentang pentingnya berdoa dengan tekun dan penuh iman. “Mintalah, carilah, dan ketuklah.” bukan sekadar ajakan untuk meminta apa yang kita inginkan, melainkan undangan untuk terus mengandalkan Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan-Nya. Tuhan mengetahui apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan dan selalu memberikan yang terbaik menurut kehendak-Nya. Yesus mengajak kita untuk tidak mudah menyerah dalam doa. Sebab, jika seorang ayah di dunia saja tahu memberikan yang baik kepada anaknya, terlebih lagi Bapa di surga. Bahkan, Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Heningnya malam ketika saya menulis renungan ini terasa mengharukan. Berita-berita di media sosial tentang bencana alam dan meningkatnya kewaspadaan terhadap kesehatan mengingatkan saya pada awal pandemi Covid-19 yang terjadi di Wuhan, Tiongkok. Saat itu, kehidupan di Indonesia berjalan seperti biasa. Kami merencanakan perjalanan bersama kantor ke Singapura. Persiapan telah dilakukan dan keberangkatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama, kaum Adam, berangkat lebih dahulu dan kembali dengan selamat.

Menjelang keberangkatan kloter kedua yakni kaum Hawa, saya mulai merasa gelisah. Kami akan berangkat pada 20 Maret 2020, bertepatan dengan ulang tahun anak saya, Jonathan Christian. Pada saat itu, kabar tentang penyebaran wabah mulai terdengar dari negara-negara tetangga. Dalam kegelisahan itu, saya hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan agar memberikan petunjuk dan menunjukkan tindakan yang tepat.

Mintalah, carilah, dan ketuklah. Saya menyerahkan segala kegelisahan kepada Tuhan, Ia membuka jalan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat (ditunda). Karena, terjadi karantina wilayah (lockdown) di Singapura sehingga pendatang tidak diperbolehkan memasuki wilayah tersebut. Hati saya pun dipenuhi rasa lega dan syukur. Saya menyadari peristiwa ini sebuah bentuk penyelenggaraan Tuhan yang melindungi kami.

Maukah kita tetap bertahan mengandalkan Tuhan, ketika keadaan di sekitar kita sedang tidak baik dan jawaban atas doa belum juga kita lihat?

Doa:
Bapa yang sangat baik, kami bersyukur atas kasih setia-Mu di hidup kami. Kau tunjukkan apa yang kami perlukan. Kami berterima kasih atas pertolongan-Mu yang tidak pernah terlambat. Semua hanya karena penyelenggaran Ilahi-Mu saja, yang membimbing langkah kami untuk semakin memuliakan nama-Mu kini dan sepanjang masa. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah