(Renungan) Sikap yang Benar dan Tepat

Sikap yang Benar dan Tepat
(Grace Th.Supit)
 
"Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." 
(Gal. 5:25)
 
Kalender Liturgi Rabu, 14 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Gal.5:18-25
Mazmur Tanggapan: Mzm. 1:1-2.3.4.6
Bacaan Injil: Luk.11: 42-46

Yesus memberi teguran keras kepada kaum Farisi dan ahli Taurat, karena mereka tidak mau menerima ajaran Yesus dan tidak mempunyai kerendahan hati. Yesus mengajarkan hidup kita seimbang dalam melayani dengan kasih yang besar, serta membuka mata melihat sesama di sekitar kita dalam hidup sehari-hari. Yesus juga mengingatkan kita untuk membuka topeng  dan berlaku apa adanya, bukan karena ada apa-apanya. Segala kebaikan, perkataan, dan perbuatan yang kita lakukan semata-mata untuk Tuhan. Janganlah meletakkan beban yang tidak dapat dipikul sesama; terlebih bila kita tidak meletakkan satu jari pun untuk membantunya. Kasih lebih dalam dari aturan dan ketulusan adalah lebih dari segalanya.

Sarapan pagi kami tiap hari Sabtu adalah ketupat Betawi dari penjual yang kadang lewat depan rumah. Pak Mista berjualan dengan memikul dagangannya di bahu. Karena sudah langganan lama, pak Mista berani minta kemeja atau kaus yang sudah tidak dipakai buat dipakainya saat berjualan. Memang kami dapat melihat bahwa pakaiannya sudah lusuh, sehingga kami memberinya beberapa kemeja dan kaus. Setelah hampir dua bulan pak Mista tidak lewat depan rumah, tiba-tiba ia datang dan memohon belas kasihan untuk dipinjami uang agar bisa jualan lagi. Ia tertimpa musibah, sehingga uang untuk jualan juga habis terpakai. Kami memberi uang modal usaha dengan sukarela dan penuh belas kasih. Ketika menerimanya, wajah Pak Mista tampak berseri-seri.  

Kita mesti mengambil sikap yang benar dan tepat, yakni dengan hidup oleh Roh. Salah satunya dengan meringankan beban mereka yang lemah. Seperti yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus dalam bacaan pertama. Jika kita hidup oleh Roh, maka ada buah Roh seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut, dan penguasaan diri (Gal.5:22-23). Ini membuat kita bahagia sekaligus menjauhkan diri dari celaka, dan membuat kita menjadi berkat bagi sesama.

Sudahkah kita mengasihi sesama dengan hati yang penuh cinta kasih dan lemah lembut?
 
Doa:
Allah Bapa yang penuh belas kasih, curahkanlah Roh Kudus-Mu atas diri kami agar kami dapat seperti hati-Mu yang penuh kasih yang tak terbatas. Kiranya Tuhan menuntun kami untuk tidak sekedar berbicara tentang kasih, tapi menjadi wujud kasih itu sendiri bagi sesama di sekitar kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah